Peristiwa

Pemred Koran SINAR PAGI, “Itu Sebagai Reaksi Berlebihan Kepala Desa Yang Alergi Terhadap Keterbukaan Publik”

adminsigiku.com
×

Pemred Koran SINAR PAGI, “Itu Sebagai Reaksi Berlebihan Kepala Desa Yang Alergi Terhadap Keterbukaan Publik”

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Avenk

Koran SINAR PAGI, Kab.Sukabumi – Video pernyataan Wakil Ketua I Apdesi Kab.Sukabumi, Ojang beserta puluhan kepala desa, yang akan melawan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Awak Media, viral ke seantero Nusantara, hingga menuai tanggapan miring bahkan kecaman dari berbagai kalangan, terutama awak media yang merasa tercederai.

Dalam video berdurasi 0.26 detik tersebut, Ojang menganggap LSM dan Media telah memperlakukan para kepala desa secara tidak wajar, karena kerap mengobok – obok urusan dapur pemerintah desa.

Akibat kejadian tersebut, tak sedikit pesan singkat diterima para wartawan di Kab.Sukabumi yang datang dari berbagai wilayah di tanah air yang menanyakan kelanjutan kasusnya sekaligus mengaku resah dengan pernyataan para kepala desa tersebut.

Mereka menyayangkan pernyataan Ojang dan kawan – kawan yang dinilai telah mendeskreditkan dan mencederai awak media secara keseluruhan.

“Media atau Pers bekerja dilindungi oleh Undang-Undang, jadi bukan untuk dilawan, namun menjadi mitra dari pemerintahan. Seharusnya APDESI Kabupaten Sukabumi menyebut oknum media di dalam video tersebut, jangan langsung memvonis untuk melawan media,” kata Angga, Ketua Persatuan Wartawan Serang Timur (Perwast) yang dikutip dari salah satu media online.

Menurutnya, kalau memang ada oknum wartawan yang melakukan tindakan yang meresahkan terhadap para Kepala Desa di Sukabumi, sebaiknya laporkan saja kepada Dewan Pers, imbuhnya.

Sementara Pemimpin Redaksi Koran SINAR PAGI dan koransinarpagijuara.com, Wawan Nurjaman,S.Sos.,MM menilai pernyataan para kepala desa di Kab.Sukabumi tersebut sebagai sebuah reaksi berlebihan dari para kepala desa, karena alergi terhadap keterbukaan publik, akibat mendahulukan program penyimpangan anggaran.

“Itu sebuah reaksi yang berlebihan dari para kepala desa yang alergi terhadap keterbukaan publik, akibat mendahulukan penyimpangan anggaran,” singkatnya, melalui sambungan telepon selular, Selasa (24/11/20).

Tanggapan lain dilontarkan Ida, salah satu wartawati yang bertugas diwilayah Kota/Kab.Sukabumi, menurutnya, tidak seharusnya seorang pimpinan publik bersikap arogan dan meremehkan profesi orang lain, karena sikap dan ucapannya akan menjadi pegangan bagi publik.

“Mulutmu adalah Harimaumu, dimana segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan terlebih dahulu akan merugikan diri sendiri,” tandasnya.