Ragam

Memilih Masalah, Menangkap Makna

adminsigiku.com
×

Memilih Masalah, Menangkap Makna

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI Dan Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)

Saat Saya menjadi guru pernah terpilih menjadi guru favorit, guru terajin, guru berpakaian terapih, maaf kalau Saya “gumasep” menceritakan masa lalu menjadi guru yang penuh warna. Sebagai guru biasa tentu Saya banyak kekurangan dan keterbatasan kemampuan, namun Saya sangat menyukai menjadi guru. Bangga menjadi guru, 100 persen bangga.

Saat menjadi guru Saya meminta mengajar di kelas yang paling bandel. Saya suka anak-anak IPS yang bandel. Saya meminta menjadi wali kelas anak paling bandel versi para guru. Plus Saya pun meminta menjadi pembina ekstrakurikuler anak-anak ngeyel yang paling tidak disukai para guru. Alhamdulillah Saya dapat “anak-anak bandel” yang dihindari para guru.

Begitu pun saat menjadi walikelas, kepada kepala sekolah Saya minta menjadi walikelas dan pembina ekstrakurikuler anak-anak bandel ? Karena Saya sangat mencintai anak-anak. Mereka adalah entitas istimewa yang bisa kita pelajari dan mendatangkan ilmu. Padahal saat itu tidak sedikit guru yang milih-milih, ingin ngajar siswa IPA yang baik-baik.

Memang ada risiko konflik yang Saya terima saat menjadi walikelas, pembina ektrakurikuler dan pembina kesiswaan dalam menangani anak bandel. Sejumlah anak mengancam, sejulah preman mengancam dan sejumlah oknum wartawan abal-abal pun mengancam. Dari anak didik Saya menyita sejumlah senjata tajam. Dari preman masuk sekolah Saya digertak 7 orang, mereka bersekongkol recoki sekolah.

Termasuk saat “menceburkan diri” menjadi Ketua PGRI Kota Sukabumi. Saya memilih berkonflik dengan ketua lama, kadisdik dan bahkan walikota yang punya calon lain. Saya adalah calon ketua PGRI yang tidak diharapkan “pemerintah” tapi Saya didukung para guru.

Sejak tahun 2011 Saya sudah menyuarakan aspirasi guru di media cetak. Ada satu birokrat yang mendukung Saya yakni Bapak Beni Haerani, beliaulah pejabat pendukung guru. Plus sejumlah timses yang tidak bisa Saya sebutkan satu persatu. Mewakili para Ketua PC, almarhum Bapak Saturih seorang guru yang sangat mendukung dan membimbing Saya untuk menjadi Ketua PGRI Kota Sukabumi.

Guru biasa hanya guru SMAN mencalonkan sebagai Ketua PGRI Kota Sukabumi belum ada sebelumnya. Saya coba buat “proyek” percontohan. Saat itu Saya mencoba tes karakter guru-guru Kota Sukabumi. Apakah mereka mendukung gaya masa lalu, atau masa depan ? Faktanya mereka mendukung masa depan. Guru-guru Kota Sukabumi memang sangat cerdas bahkan sangat waras.

Alhamdulillah PGRI Kota Sukabumi, sejak Saya menjadi ketua kini makin mandiri. PGRI Kota Sukabumi unik dan hebat. Guru, kepala sekolah, pengawas sekolah dan guru honorer aktif di PGRI. Ungkapan “Dari Guru oleh Guru Untuk Guru” sesuai UURI No 14 Tahun 2005 diterapkan di PGRI Kota Sukabumi. Semoga PGRI kota/kab/prov dan PB bisa meniru PGRI Kota Sukabumi.

Termasuk di PB PGRI, Saya hanya meminta dua tugas saja. Silahkan untuk hal yang nyaman dan hal yang manis berikan pada pengurus yang lain. Saya katakan pada Ketua Umum, “Saya minta menangani konflik penganiayaan guru honorer dan masalah guru honorer saja”. Alasan Saya mengapa minta “diterjunkan” pada konflik guru ? Karena hanya guru yang tahu masalah guru, Saya guru saat itu.

Tidaklah heran tulisan Saya selalu bernarasi guru honorer dan segala diskriminasi kepada entitas profesi guru. Bahkan dahulu Saya pernah menulis tentang “Guru Bukan Fir’aun” yang tidak akan sakit. Juknis TPG dahulu “melarang” guru sakit melebihi 3 hari. Guru “tidak boleh sakit” seperti Fir’aun. Bila sakit atau dirawat maka TPGnya tidak cair atau harus mengembalikan.

Saya tidak tertarik menangani puluhan perguruan tinggi dan puluhan sekolah PGRI. Menangani bidang yang ada titik-titiknya Saya hindari. Saya masuk PGRI sejak awal hanya berniat bela guru bukan mencari sesuatu yang ada profitnya. Saya dapat wasiat dari Ibu Saya seorang guru SD, Ia mengatakan,”Bela para guru terutama guru-guru SD”. Katanya demikian. Maklum Ibu Saya adalah seorang guru SD.

Sahabat pembaca dalam tulisan ini Saya hendak menyampaikan bahwa zona nyaman itu memang adem tapi kurang mengeksplorasi potensi diri. Ungkapan “Kalau sudah duduk lupa berdiri” faktanya bisa demikian. Inginnya orang terus berkuasa dan disanjung. Bahkan kalau bisa diwariskan kekuasaan itu. Karakter kita diuji saat kita konflik. Pilih jadi hamba sahaya atau hamba belajar ?

Kisah sejarah agama Islam menjelasakan, Nabi Muhammad itu memilih berkonfik dengan para penguasa Quraisy yang mapan. Ia melawan etika jahil dan entitas jahil yang status quo. Beliau ingin mengubah karakter (akhlak) masyarakat Quraisy menjadi masyarakat yang jujur, cerdas, amanah dan berbudaya mengajak pada kebaikan. Bukan biasa, terbiasa dan terpaksa mengikuti leluhur yang jahil.