OPINI/Artikel

Bergerak Dengan Hati, Pulihkan Pendidikan

adminsigiku.com
×

Bergerak Dengan Hati, Pulihkan Pendidikan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Kepala SMA Penggerak Anggkatan Pertama)

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (GPMPK) Dr. H. Yaswardi, M.Si. dalam sebuah pengantar menyatakan “Sebagai ujung tombak, guru dan kepala sekolah perlu terus berkembang dan menguasai pengetahuan dan teknologi terkini terlebih lagi dalam masa pandemi Covid-19. Berbagai macam strategi pembelajaran yang menginspirasi sangat dibutuhkan dalam melaksanakan proses pembelajaran pada masa pandemi ini.”

Direktur GPMPK memberi sebuah apresiasi bagi guru dan kepala sekolah pendidikan menengah dan pendidikan khusus inspiratif dalam sebuah lomba dengan tema “Bergerak Dengan Hati, Pulihkan Pendidikan“. Ini cukup menarik dan memberi afirmasi pada sejumlah dinamika layanan pendidikan pada masa pandemi. Afirmasi dalam artian semua GTK diberi kesempatan “menarciskan” diri melalui lomba.

Lomba yang mengapresiasi GTK dalam berupaya memberikan layanan pendidikan saat pandemi. Terutama fokus di PTMT. Bagaimana entitas GTK melakukan “manuver” mengajar, mendidik dan mengelola satuan pendidikan saat wabah masih terus menjadi hambatan berat. Guru dan kepala sekolah dituntut tetap eksis, humanis dan hadir melayani anak didik apa pun yang terjadi.

Momok learning loss menjadi soal bersama. Ketakutan akan hadirnya sebuah generasi “lolos rem” karena pernah masuk pada fase learning loss tentu sangat tidak diharapkan. Learning loss adalah hilangnya kesempatan belajar secara efektif bagi peserta didik di sekolah yang berakibat pada penurunan penguasaan kompetensi peserta didik yang dikarenakan kondisi pandemi Covid-19. Ini bisa jadi momok.

Sementara Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) dalah proses pembelajaran di satuan pendidikan yang dilaksanakan dengan dua fase yaitu masa transisi dan masa kebiasaan baru (new normal). PTMT adalah realitas layanan pendidikan saat ini yang harus terus dilakukan. Terutama di kota-kota besar dimana sekolahnya “padat” anak didik. Beda dengan beberapa kasus sekolah pinggiran yang siswanya sedikit, dari dulu mereka sudah jaga jarak karena siswanya sedikit.

PTMT di era pandemi adalah sebuah upaya “penyelamatan” masa depan anak didik. Bila era pandemi zero proses pembelajaran maka learning loss bisa jadi kenyataan. Otomatis masa depan bangsa akan bermasalah. Pepatah bijak mengatakan.

“Apa yang akan terjadi pada masa depan bangsa, lihatlah apa yang terjadi pada layanan pembelajaran pada setiap anak didik saat ini”. Ini rasional. Bila anak didik saat wabah zero belajar maka akan madesu lah masa depan kita.

Dalam video yang disebar di jaringan youtube akan banyak GTK dengan 1001 cara melakukan upaya layanan terbaik pada saat PTMT. Semuanya pasti baik dan bernilai ibadah karena berikhtiar menyelamatkan anak didik dari learning loss. Namun tentu akan dipilih 20 terbaik dari masing-masing jenjang. Si Terbaik akan menjadi “duta” praktik baik dalam layanan PTMT di era pandemi. Objektivitas penilaian dari juri akan menentukan “nasib” para peserta.

Lomba atau apresiasi GTK tahun 2021 ini memang unik. Tidak ada tumpukan portofolio dalam container box dan tidak repot membawa ke sana kemari. Namun sisi lain, waktu yang singkat dan pengambilan gambar dengan video dan membuat narasi “pendamping” tayangan video tentu juga tak terlalu mudah. Nampaknya panitia mulai menilai dari kesanggupan membuat video dan narasi dalam waktu singkat. Plus kesanggupan membuat video dalam durasi 5 s.d. maksimal 7 menit.

Selamat berjuang GTK hebat yang selalu haus berkompetisi. Bagi kita pada umumnya narcistik itu selfie, selfie dan photo gaya di lokasi yang wow. Dicari lokasi-lokasi “seksi” hanya untuk selfie. Bagi GTK yang tawadhu, rendah hati, humble tapi petarung maka lomba adalah ajang selfie terbaik saat memegang piala, piagam, hadiah dan berphoto bersama pejabat, bahkan dengan Presiden Jokowi saat ini.