Pewarta : Jeky EPSA
Koran Sinar Pagi, Sumedang – Uar Sudiaputra ( 72) seorang dalang asal Sumedang, sekaligus pimpinan Grup Wayang Golek Mandalaharja, juga Ketua Dalang Sumedang dari Persatuan Padalangan Indonesia ( PEPADI) yang tinggal di Dusun Hegar Sari, Desa Mandalaherang, Kecamatan Cimalaka, Kab. Sumedang, Jawa Barat., pernah manggung hngga pulau Sumatera,
” Kejadianya di tahun 1982, saat itu ngisi acara pernikahan orang Ciwaru, CIsarua Sumedang yang transimigran ke daerah Lampung”, ujar nya, saat ditemui dirumah nya, Sabtu, ( 7/1/2023).
Kalau di Jawa Barat hampir semua wilayah sudah di kunjungi, ” Paling sering saya manggung di daerah Majalengka, Kuningan, Cirebon, Indramayu. Terutama daerah Majalengka karena disana warganya banyak yang suka wayang”, ucap nya.
” Bahkan saat di tahun 1986 pernah manggung selama 27 hari tanpa henti hingga ujung nya saya sakit berobat ke dokter”, ucap nya lagi.
Bicara Wayang ( Golek) , jelas dia, saya merupakan generasi ke 4 dari buyut saya, yang awalnya buyut saya bernama Uyut Widarma juga seorang dalang namun dia dalang Wayang Kulit, kemudian kakek Maduri atau terkenal dengan Mama Sudia, ” Nah sejak kakek saya itu lah mulai beralih ke Wayang Golek, terus ayah saya yang bernama Sudia, dan sekarang saya penerusnya”, tandas nya.
” Kaitanya dengan PEPADI, di Sumedang ini ada 17 anggota PEPADI yang masih aktip. Untuk ketua nya , saya sendiri periode 2019 – 2025″, jelas nya.
Unik nya wayang Sumedang, dikatakatan Uar, yaitu dengan menggunakan teknik modern, diantaranya saat melepaskan busur kelihatan melesatnya karena menggunakan lampu di panahnya.
” Termasuk ada wayang yang muntah, itu menggunakan Bedak Talek ( semacam bedak bayi – red) yang ditiup oleh dalang melalui selang”, tandas nya.
Teknik – teknik modern itu kesininya ditiru oleh dalang dari Bandung dengan dirubah alatnya menggunakan Emi saat wayang muntah.
Tapi, lanjut dia, untuk teknik wayang modern dengan teknik dalang modern itu berbeda, ” Kalau teknik wayang modern dalang nya satu orang tapi menggunakan teknik kreatif dalang dalam pagelaranya. Dan untuk dalang modern lain, dalang nya lebih dari satu orang, ada 3 atau bahkan 4 orang dalang main bersama dan mereka mendalang ( biasanya ) sambil berdiri”, ungkap nya.













