Oleh : Sumiati (Ibu Rumah Tangga)
Kebutuhan pokok seperti beras, kian hari kian mahal, ini semakin membuat para pedagang maupun masyarakat mengalami keresahan. Rasa pahit inipun harus dirasakan oleh para petani pasalnya mereka mengalami gagal panen. Gagalnya panen yang dirasakan para petani berakibat berkurangnya pasokan beras yang mengakibatkan melonjaknya harga beras.
Seperti yang dilansir dari Dejurnal.com, Bandung – Keresahan ini membuat sejumlah orang mendatangi kantor Dinas Pertanian (Distan) sebagai perwakilan Kecamatan Pasirjambu, Ciwidey dan Rancabali (Pacira), Kabupaten Bandung.
Mereka datang menyampaikan aspirasi dan mengadukan nasib petani yang merasa kurang diperhatikan. Mereka menuntut agar Perda Nomor 10 Tahun 2021 segera diimplementasikan. Karena hal ini menyangkut masa depan petani se Kabupaten Bandung. Tetapi kedatangan mereka hanya disambut oleh Sekretaris Dinas (Sekdis), padahal mereka sebenarnya berharap langsung bertemu dengan Kepala Dinas.
Akan hal aduan ini petani mengeluhkan kurangnya perhatian maksimal yang dirasakan oleh mereka. Seperti penerima bantuan pupuk, hanya petani yang memegang kartu Petani Mandiri, sedangkan pemegang kartu Tani Bedas belum direalisasikan.
Hal ini mencerminkan bahwa pemerintah tidak serius dalam penanganan persoalan ini. Sebagai bukti ketidakseriusan pemerintah terlihat dari pengaturan dalam hal pemberian bantuan pupuk, yang hanya sebagian dari petani.
Ketidakadilan yang pemerintah terhadap rakyatnya semakin membuktikan kebokbrokan sistem saat ini.
Kezaliman yang dilakukan oleh pemerintah akan semakin membuat rakyat tidak percaya akan kemampuan pemerintah dalam periayahan terhadap mereka. Padahal seharusnya pemerintah bersikap adil dengan memberikan bantuan pupuk kepada seluruh petani yang menjadi warga negaranya.
Keluhan yang dirasakan oleh para petani bukan hanya masalah pupuk saja, tetapi juga masalah hama. Ada berbagai jenis hama yang mengganggu pertumbuhan padi seperti hama tikus dan keong.
Keluhan-keluhan tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah agar dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh para petani. Sehingga akan mengurangi kegagalan panen nanti. Karena inipun akan berakibat kepada perut semua orang bukan hanya para petani. Kalau pasokan beras sedikit maka apa yang akan dimakan oleh rakyat? Sedangkan beras merupakan kebutuhan pokok, dan berpengaruh terhadap kebutuhan jasmani manusia yang apabila tidak terpenuhi akan mengakibatkan kematian.
Hal ini tidak akan terjadi ketika sistem Islam yang diterapkan. Rasulullah saw. adalah sosok pemimpin yang patut dicontoh. Beliau adalah pemimpin yang mampu menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi oleh rakyatnya.
Beliau pun memperingatkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sabda beliau:
” Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitupun dengan sahabat beliau Khalifah Umar ra. adalah pemimpin yang selalu memperhatikan rakyatnya. Bahkan beliau selalu gelisah kalau-kalau ada rakyatnya yang belum teriayah dengan baik. Sikap Khalifah Umar ini sebagai keyakinan bahwa kepemimpinan beliau akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
” Imam (Khalifah) adalah ra’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari).
Maka dari itu, bersegeralah untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah dengan berlandaskan akidah Islam yang akan menghasilkan sosok-sosok pemimpin yang bertanggung jawab. Sehingga tidak ada lagi keluhan dari rakyat yang dipimpinnya salah satunya dari kalangan para petani.
Wallahu’alam bishshawab











