OPINI/Artikel

Menyongsong Perubahan Yang Hakiki

adminsigiku.com
×

Menyongsong Perubahan Yang Hakiki

Sebarkan artikel ini

Oleh : Turmini (ibu rumah tangga)

Tidak dapat di pungkiri, kondisi negeri saat ini sedang dalam keterpurukan. Salah satu yang menjadi penyebab ke tidak harmonisan adalah dengan adanya suasana kempetisi pemilu yang semakin kuat di tengah-tengah masyarakat. Berbagai cara untuk mensosialisasikan ke masyarakat, sejumlah lembaga surveipun di turunkan demi untuk mendulang suara.

Berbagai agenda konsolidasi dilakukan, sosialisasi para capres digelar di berbagai daerah. Ancang ancang mencari koalisi sudah mulai di lakukan oleh beberapa partai politik ( parpol ) untuk menghadapi perhelatan pemilu 2024. Apalagi kalau bukan bertujuan untuk memenangkan kontestasi paling bergengsi di negeri ini.

Koalisi dan oposisi merupakan dua kelompok yang biasanya hadir dalam perhelatan pemilu sistem parlementer. Membentuk koalisi dan mencari pasangan untuk disunting biasanya dilakukan oleh beberapa partai yang merasa cocok untuk disandingkan sebagai calon presiden ( capres ) maupun wakil presiden ( wapres )

Dan antusiasme juga tampak di tengah tengah umat muslim dengan harapan akan adanya perubahan melalui pemilu di tahun depan.

Keadaan umat hari ini memang sedang tidak baik baik saja, beragam persoalan membelit negeri ini mulai dari persoalan ekonomi, sosial, keamanan, hingga politik. Secara ekonomi, negeri yang kaya akan sumberdaya alam justru memiliki utang luar negeri mencapai hampir Rp 8.000 triliun. Pemberantasan korupsi malah makin lesu. Skandal keuangan Rp 341 triliun di Kemenkeu, misalnya, sampai sekarang tidak ada titik terangnya. Dalam keamanan nasional warga masih terancam serangan kelompok teroris OPM Papua juga banyak memakan korban , baik warga juga aparatnya.

Dalam sistem politik demokrasi, tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Semuanya bisa berubah karena kepentingan. Tidak heran kalau saat ini berperan menjadi koalisi besok bisa menjadi oposisi sudah di pastikan juga bahwa semua parpol menginginkan bisa memegang kunci kekuasaan. Karena itu, ada sebagian partai, bahkan sebagian orang berlomba – lomba dan menghalalkan segala cara untuk meraih kursi tertinggi.

Dalam politik demokrasi, kekuasaan merupakan tujuan tertinggi. Di dalamnya ada politik balas budi sebagai konsekuensi bertransaksi. Dalam politik demokrasi aturan di buat atas dasar kehendak manusia. Agama tidak boleh dibawa – bawa dalam mengatur kehidupan bernegara. Bahkan , kalau membawa agama harus siap di beri gelar radikal, ektremis atau bahkan harus siap di copot dari jabatan atau kekuasaan.

Sesungguhnya agama ( islam ) mempunyai aturan yang sempurna dan paripurna islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan politik. Dalam islam, politik adalah riayah suunil umat, artinya melakukan pengurusan, perbaikan dan pelurusan atas seluruh urusan umat.

Islam tidaklah seperti demokrasi yang berasaskan manfaat dan kepentingan. Dalam islam, berpolitik sangat penting. Tanpa politik segala urusan umat akan terabaikan. Oleh karena itu penting bagi umat ( rakyat ) membuka kesadaran tentang politik sesui kaca mata islam. Imam Al-ghazali menyatakan, ” Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi ( asasnya ) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala seauatu yang tidak punya penjaga akan musnah. ”

Karena itu, kita butuh islam untuk mengantarkan pada perubahan hakiki, perubahan yang membawa pada kemuliaan iman. Sudah tampak nyata kekurangan dan kelemahan sistem demokrasi tidak bisa ditambal lagi. Tidak akan pernah terwujud perubahan hakiki dengan hanya sekedar berganti pemimpin, tanpa berganti sistem. Perubahan hakiki hanya bisa terwujud dengan menerapkan sistem islam secara sempurna.

Selain itu kaum muslim harus berpegang pada Al Qur”an dan As-sunnah satu satunya petunjuk dalam kehidupan, begitu pula seorang pemimpin haruslah menerapkan syariah islam atau hukum-hukum Allah SWT yang jelas terbaik dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia di muka bumi.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab