OPINI/Artikel

Musim Kemarau Tiba, Kesulitan Air Bersih Pun Melanda

adminsigiku.com
×

Musim Kemarau Tiba, Kesulitan Air Bersih Pun Melanda

Sebarkan artikel ini

Oleh : Neng Tintin (Ibu Rumah Tangga)

Fenomena iklim El Nino pemicu cuaca panas ektrem, sehingga menyebabkan beberapa wilayah di Indonesia mengalami dampak kekeringan. Salah satunya kekeringan terjadi di Desa Bojongmangu Kecamatan Pameungpeuk Kabupatèn Bandung Jawa Barat. Yang berdampak kepada 600 orang warga.
Dihimpun dari Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops), Badan Penanggulangan Bencana Daera (BPBD) Kabupaten Bandung, sebanyak 400 KK warga Desa Bojongmangu mengalami krisis kekeringan sumber air bersih akibat dampak dari kekeringan.

Merespon kondisi kekeringan, BPBD Kabupaten Bandung telah berkoordinasi dengan instansi terkait, yaitu PDAM Jalak Harupat untuk mendistribusikan air bersih. Warga Desa Bojongmangu pun sudah menerima bantuan sebanyak lima ribu liter air bersih.

Berdasarkan hasil kajian inaRisk, risiko kekeringan di Kabupaten Bandung berada di tingkat sedang menuju tinggi. Sumber: www.bnpb.go.id
Ternyata masalah kekeringan serta kesulitan terhadap air bersih ini tidak hanya terjadi di Jawa Barat. Melainkan hampir di sebagian besar wilayah yang ada di Indonesia.

Dan Masalah ini seolah menjadi langganan, tatkala Musim Kemarau melanda. Bahkan kekeringan ini tak hanya berdampak pada minim nya sumber air bersih, lebih dari itu ancaman kebakaran lahan dan hutan pun tak elak terjadi.
Anehnya musim Hujan, maupun kemarau, seolah menjadi ancaman tersendiri untuk sebagian wilayah di Indonesia ini.

Mengapa keberkahan seolah jauh tatkala musim hujan maupun kemarau tiba. Lalu apa masalah sebenarnya?
Kita memang tidak bisa menyalahkan iklim/ cuaca. Karena sudah sunatulloh nya musim itu berganti, dari musim hujan ke musim kemarau, maupun sebaliknya.

Seharusnnya musim hujan ataupun kemarau, bisa memberikan ketenangan dan keberkahan tersendiri yang seharusnya dirasakan oleh seluruh umat manusia. Bukan malah masalah dan bencana yang justru menimpa. Lalu mengapa demikian?

Harus kita fahami dan sadari bersama, bahwa akar dan sumber permasalahan kita selama ini yakni karena diterapkannya sistem kufur Kapitalisme sekularisme dalam kehidupan.
Sistem ini telah memisahkan agama dari kehidupan, sehingga manusia hidup tidak mau diatur oleh yang Maha menciptakan. Justru malah berbalik, manusia lah yang justru membuat aturan, bak Tuhan. Padahal aturan yang berasal dari makhluk/ manusia itu sejatinya lemah dan terbatas, karena bersumber dari akal dan hawa nafsu. Maka jelas semua itu tidak dapat menyelesaikan seluruh problematika kehidupan.

Berbeda dengan aturan Islam, yang sumbernya langsung dari Sang pemilik hidup dan kehidupan, Tuhan semesta alam, Allah SWT. Yang tidak akan mendzolimi makhluk nya, justru akan mensejahterakan, karena Allah pasti lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan makhluknya yang diciptakan.

Sudah seharusnya manusia seharusnya manusia( Kaum Muslim) itu sadar dan tunduk hanya kepada-Nya. Bukan pada yang lain.
Karena sudah fitrahnya manusia sebagai seorang hamba terikat dengan aturanNya. Salah satunya mengenai pengelolaan sumber daya alam.
Didalam konsepsi Islam, kepemilikan itu hanya ada dua, yakni kepemilikan individu dan kepemilikan umum.
Contoh kepemilikan individu misalnya rumah, kendaraan, pakaian, makanan, dan lain sebagainya.

Sementara kepemilikan umum, seperti halnya air, padang rumput ( termasuk hutan), pulau, hasil tambang dan sebagainya, itu tidak boleh dijual belikan/dikuasai oleh individu/ segelintir orang. Didalam Islam, semua itu harus dikelola oleh Negara, dan hasilnya dikembalikan kembali kepada Rakyat.
Dan jika itu tidak dilakukan, kekacauan dan keruksakan akibat buah dari sistem yang diterapkan, akan sulit untuk dihindarkan. Termasuk bencana kekeringan air bersih ini.
Padahal Allah SWT telah memperingatkan didalam al-Quran:
” Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh bagi dia penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada hari kiamat dalam keadaan buta (TQS. Thaha : 124).
Serta firman Allah SWT :
” Telah tampak keruksakan didarat dan dilaut, disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS. ar-Rum :41).

Artinya sudah saatnya umat menjadikan Islam lah sebagai dasar keyakinan dan aturan dalam mengatur seluruh aspek kehidupan. Dengan umat mau berislam secara total (kaffah), dengan menerapkan syariat Islam, dalam bingkai khilafah. Sehingga seluruh permasalahan dan problematika kehidupan dapat teratasi dan terselesaikan.

WalLahu a’lam.