Peristiwa

Hujan Deras Lumpuhkan Akses di Nyalindung, Jalan Provinsi Tergenang, Jembatan Darurat Ambruk Lagi

adminsigiku.com
×

Hujan Deras Lumpuhkan Akses di Nyalindung, Jalan Provinsi Tergenang, Jembatan Darurat Ambruk Lagi

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Arief

Kabupaten Sukabumi – Intensitas hujan tinggi kembali membuka kerentanan infrastruktur di wilayah Desa Cijangkar dan Desa Bojongsari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Selasa (14/4/2026). Banjir dan kerusakan fasilitas publik terjadi nyaris bersamaan, mengganggu akses vital warga.

Di Kampung Legok Areuy, Desa Cijangkar, luapan air dari area perkebunan menggenangi ruas jalan provinsi Sukabumi–Sagaranten sekitar pukul 15.00 WIB. Air yang mengalir deras tak hanya menutup badan jalan, tetapi juga menyeret material batu hingga menumpuk di tengah ruas, menyebabkan arus lalu lintas tersendat.

Sejumlah warga menilai kejadian ini bukan sekadar dampak cuaca ekstrem, melainkan indikasi lemahnya sistem drainase di kawasan tersebut. Saluran air yang tidak mampu menampung debit hujan justru menjadi pemicu meluapnya air ke jalan.

Salah satu warga, Dadang, mengungkapkan bahwa peristiwa ini terjadi dengan cepat akibat curah hujan tinggi yang tidak diimbangi kapasitas drainase.

“Air berasal dari kebun di atas jalan. Karena hujan deras, drainase tidak sanggup menampung, akhirnya meluap dan membawa material batu ke jalan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Pada 2025, titik yang sama mengalami peristiwa serupa. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut merupakan titik rawan yang belum mendapatkan penanganan serius.

Sementara itu, di Desa Bojongsari, dampak hujan deras berujung lebih fatal. Jembatan darurat berbahan bambu yang menghubungkan Kampung Tanggeng dan Kampung Cipiit, ambruk setelah diterjang arus sungai yang meluap.

Ironisnya, jembatan tersebut baru selesai dibangun sekitar tiga bulan lalu, pada awal Januari 2026. Ambruknya jembatan dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan serius terkait kualitas perencanaan dan keberlanjutan solusi infrastruktur yang diterapkan.

Warga setempat, Asep, menyebut derasnya arus sungai dengan cepat menyapu jembatan yang menjadi akses utama warga.

“Kejadiannya sangat cepat. Air langsung menghantam dan merobohkan jembatan. Ini bukti bahwa jembatan darurat bukan solusi jangka panjang,” tegasnya.

Ia mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret, mengingat jalur tersebut merupakan akses penting bagi aktivitas ekonomi dan sosial warga.

Rangkaian kejadian ini kembali menegaskan bahwa persoalan infrastruktur di wilayah rawan bencana belum tertangani secara komprehensif. Tanpa perbaikan sistem drainase yang memadai dan pembangunan infrastruktur permanen, peristiwa serupa berpotensi terus berulang setiap musim hujan.