Pewarta : Arief
Kabupaten Cianjur – Dugaan praktik jual beli titik dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Cianjur semakin mengemuka. Sejumlah mitra mengaku didatangi oknum yang menawarkan titik dapur baru dengan imbalan ratusan juta rupiah, bahkan ada korban yang mengaku mengalami kerugian lebih dari Rp1 miliar akibat dugaan penipuan berkedok pengadaan dapur MBG.
Iza (bukan nama sebenarnya), salah seorang mitra Dapur MBG di Cianjur, mengungkapkan bahwa dalam enam bulan terakhir dirinya beberapa kali didatangi pihak yang menawarkan titik dapur baru dengan syarat harus membayar sejumlah uang terlebih dahulu.
“Benar ada beberapa orang yang datang menawarkan titik baru. Tapi saya diminta membayar antara Rp150 juta sampai Rp200 juta untuk setiap titik, tergantung lokasinya,” ujar Iza, Kamis (5/6/2026).
Menurutnya, para oknum tersebut berusaha meyakinkan calon mitra dengan mengaku memiliki akses khusus ke Badan Gizi Nasional (BGN). Bahkan, beberapa nama pejabat disebut-sebut untuk memperkuat klaim mereka.
“Saya telusuri ternyata bukan orang BGN. Tapi mereka mengaku punya akses ke BGN dan mencatut nama beberapa petinggi. Kalau tidak hati-hati, banyak yang bisa percaya,” katanya.
Pengakuan serupa disampaikan IS, mitra MBG lainnya. Ia mengaku kerap mendapat tawaran untuk memperoleh titik dapur baru melalui jalur tidak resmi dengan biaya yang jauh lebih besar.
“Ada yang meminta Rp200 juta sampai Rp300 juta hanya untuk mendapatkan titik. Itu belum termasuk biaya pembangunan dapur dan operasional,” ujarnya.
IS memilih menempuh prosedur resmi dalam mengajukan pendirian dapur MBG. Menurutnya, jalur legal jauh lebih aman dibanding harus mengeluarkan dana besar tanpa jaminan kejelasan.
“Saya lebih memilih mengikuti prosedur resmi dan melengkapi persyaratan yang ada daripada membeli titik seperti itu,” katanya.
Ia menilai maraknya praktik jual beli titik dapur diduga menjadi salah satu penyebab menjamurnya pembangunan dapur MBG di sejumlah wilayah Cianjur tanpa perencanaan yang matang. Akibatnya, terdapat dapur yang berlokasi berdekatan dan berpotensi menimbulkan persaingan dalam penentuan penerima manfaat.
“Banyak dapur yang berdiri berdekatan sehingga saling berebut wilayah layanan. Karena itu saya mendukung jika praktik jual beli titik ini diusut secara serius,” tegasnya.
Lebih memprihatinkan lagi, dugaan praktik tersebut tidak hanya berujung pada transaksi ilegal, tetapi juga menyeret sejumlah calon mitra menjadi korban penipuan.
Elis (bukan nama sebenarnya) mengaku kehilangan lebih dari Rp1 miliar setelah tergiur tawaran mendapatkan dua titik dapur MBG. Ia bahkan diminta membangun dapur terlebih dahulu dengan janji seluruh biaya pembangunan akan diganti setelah proyek selesai.
“Saya dijanjikan mendapatkan titik dapur dan diminta membangun fasilitasnya terlebih dahulu. Katanya seluruh biaya pembangunan akan dikembalikan dan saya bisa ikut menjadi pengelola dapur,” ujarnya.
Namun janji tersebut tidak pernah terealisasi. Setelah dana disetorkan dan pembangunan berjalan, pihak yang menawarkan proyek tersebut justru menghilang tanpa jejak.
“Ternyata titiknya tidak ada. Orang yang menjanjikan juga menghilang. Saya sudah keluar uang lebih dari Rp1 miliar untuk dua titik dan pembangunan dapur yang sekarang baru selesai sekitar 40 persen. Pembangunan akhirnya mangkrak karena dana habis dan tidak pernah diganti,” ungkapnya.
Elis mengaku bukan satu-satunya korban. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, terdapat banyak calon mitra lain yang mengalami nasib serupa.
“Bukan hanya saya. Korbannya sudah banyak. Yang saya kenal saja ada belasan orang yang mengaku mengalami hal yang sama,” katanya.
Munculnya sejumlah pengakuan tersebut memunculkan dugaan adanya praktik percaloan hingga penipuan terorganisir yang memanfaatkan tingginya minat masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis. Para korban berharap aparat penegak hukum dan pihak terkait segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap jaringan pelaku serta mencegah semakin banyak masyarakat yang menjadi korban.

