OPINI/Artikel

Darah Guru Menyiram Bumi

adminsigiku.com
×

Darah Guru Menyiram Bumi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Wafatnya guru bernama Oktavianus dan Yonatan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua menambah deretan nama guru yang “darahnya tumpah menyiram bumi”. Sebelumnya Alexader seorang guru SMK tewas ditusuk di Manado. Sebelumnya Ahmad Budi Cahyono tewas dicekik dan dipukuli di Maduara. Sebelumnya Kilah, guru SD tewas ditusuk di Sukabumi dan Yuyun, guru SD tewas dibunuh di Banyuasin.

Begitu banyak deretan guru yang darahnya menyiram bumi karena dibunuh. Perlindungan dan keselamatan guru harus menjadi perhatian. Haruskah setiap saat ada guru yang darahnya menyiram bumi karena kebengisan umat manusia pada profesi mulia guru ? Tidak cukupkah derita entitas guru dengan status honorer yang sulit berajak ?

Negeri ini berdiri terkait jasa para guru. Kebangkitan rasa kebangsaan dan kebangaan sebagai bangsa adalah buah pendidikan formal yang melahirkan entitas pelajar. Golongan pelajar dan mahasiswalah yang mendapatkan pendidikan dari para guru sehingga rasa kebangsaan lahir sebagai pemantik pergerakan kebangsaan yang menafikan spirit primordialisme.

aEntitas guru adalah pewaras bangsa. Perjuangan melawan kebodohan berujung pada perlawanan terhadap kolonialisme. Kolonialisme adalah sebuah proses pembodohan bangsa buah dari kebodohan bangsa. Kebodohan bangsa hanya bisa “diurai” dengan proses pendidikan, dan guru adalah katalis yang mentransformasi kebodohan jadi kewarasan. Tewasnya sejumlah guru karena dianiaya dan dibunuh sungguh menyedihkan.

Faktanya profesi guru selain berisiko kematian, dikriminalisasi, didiskriminasi, dipolitsasi dan dieksploitasi, profesi guru masih kurang dimuliakan. Mulai dari oknum para pejabat, oknum LSM, oknum ormas, oknum penegak hukum, oknum jurnalis, oknum lainnya masih kurang menghormati dan memuliakan martabat guru. Guru masih dipandang “Oemar Bakri” oleh sebagian orang.

Padahal dengan segala keterbatasan, kekurangan dan kelemahan guru. Entitas guru sangat-sangat strategis, terutama guru pendidikan dasar, TK/SD. Guru TK/SD adalah guru pendidikan dasar yang memberikan “kesan pertama” pada anak didik terkait dunia kehidupan dan pendidikan karakter. Bangsa besar lahir dari bangsa yang berkarakter. Guru di TK/SD diantaranya adalah peletak dasar karakter anak bangsa.

Program kelahiran Pelajar Pancasila yang saat ini sedang digas dan digagas pemerintah sangat terkait dengan profesi guru. Pelajar Pancasila hanya akan lahir dari proses pendidikan yang berkualitas. Tentu pendidikan berkualitas terlahir pula dari entitas guru yang terlindungi, sejahtera dan kompeten. Dalam UURI No 14 Tahun 2005 pemerintah wajib memberikan perlindungan pada profesi guru, mensejahterakan dan memberikan fasilitas peningkatan kapasitas. Ini amanah undang-undang.

“Imunitas” profesi guru dari bahaya yang mengancam, kesejahteraan yang kurang, status yang gonjang ganjing, diskriminasi, politisasi semoga makin minimize. Selama suatu bangsa entitas profesi gurunya masih tidak aman dan masih penuh derita maka selama itu pula masa depan bangsa masih terseok-seok. Lindungi gurunya, sejahterakan gurunya, naikan statusnya dan tingkatkan kapasitasanya maka bangsa akan lebih baik.

Pemerintah dan masyarakat yang “sadar guru” dalam artian sangat memuliakan guru akan sangat baik bagi masa depan bangsa. Di negeri maju profesi guru sangat dimuliakan dan dihormati, diletakan pada posisi sakral dan strategis.

Mari semua pihak dan internal guru sendiri untuk “menggelinjang bergeliat” menaikan kapasitas diri dan perlindungan bersama, demi masa depan bangsa. Guru hebat, masa depan juara