Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)
Membaca surat balasan Kacadisdik Wil X kepada Ketua PGRI Kuningan sungguh indah. Inilah yang namanya kolaborasi birokrasi dan organisasi. Bagaikan “berbalas surat cinta”. Ini layak kita apresiasi. Sebagai Ketua Pengurus Besar PGRI Saya bangga dan apresiet pada keduanya. Maka layak Saya sampaikan khusus pada Ibu Dra.Hj.Ester Miori Dewayani,M.Pd sebagai Kacadisdik Tercantik.
Mengapa Kacadisdik tercantik ? Karena Ia memang cantik dan “cantik” menerjemahkan kebatinan para guru dan menyarankan setiap tanggal 25 para guru menggunakan batik Kusuma Bangsa PGRI. Batik Kusuma Bangsa PGRI adalah baju profesi guru yang khas. Ini bagian dari spirit nasionalisme dan keprofesian. Nasionalisme batik khas Indonesia dan keprofesian guru.
Bila para pejabat pendidikan dan pengurus PGRI kolaboratif mesra dengan pemerintah maka akan sangat wow dan istimewa. Bila keduanya Birokrasi dan Organisasi tak saling kenal maka tak konstruktif bagi percepatan kemajuan dunia Pendidikan. “Kemesraan” antara Ketua PGRI Kuningan dan Kacadisdik, plus MKKS SMA/SMK/SLB khusunya, tentu sangat baik.
Era disrupsi setidaknya ada tiga hal utama yang harus menjadi “gaya” semua orang. Pertama terkait pentingnya kolaborasi. Kedua pentingnya inovasi, peningkatan kompetnsi dan ketiga terkait literasi. Kolaborasi, inovasi dan literasi saat ini sangat-sangat penting. Tidaklah heran Kementerian Kebudayaan Ristek sangat mengharapkan ketiganya. Plus penguatan numerasi.
Sukses selalu Ibu Hj.Ester Miori Dewayani. Semoga Ibu dapat tarus berkolaborasi dengan PGRI Kuningan khususnya. Hal lainnya semoga Ibu bisa mengapresiasi juga para guru penggerak yang aktif di PGRI agar diafirmasi bila ingin berkarir lebih baik. Misal bila para guru aktivis PGRI mau menjadi kepala sekolah semoga diberi nilai tambah atau diberi prioritas.
Bila kita simak podcast antara Presiden RI Joko Widodo dengan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim maka kita menangkap “perintah” bahwa para kepala sekolah masa depan harus diambil dari guru-guru penggerak. Selain guru penggerak secara formal dalam program Kemdikbud Ristek, jangan lupa guru aktivis PGRI adalah penggerak yang sebenarnya.
Setidaknya ada tiga tipe guru potensial. Pertama guru penggerak dalam program Kemdikbud Ristek, kedua guru berprestasi program Kemdikbud Ristek dan ketiga guru penggerak yang aktif di PGRI sesuai amanah UURI No 14 Tahun 2005. Guru aktivis PGRI harus diprioritaskan mendapatkan kanal karir di wilayah Disdik.
Untuk lebih menguatkan apresiasi pada para guru hebat, Jumeri, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD-Dikdasmen) mengatakan “ada pola baru” terkait rekrutmen kepala sekolah. Para kepala sekolah akan lahir dari guru-guru potensial dalam program Guru Penggerak.
Era Merdeka Belajar mengutamakan para guru penggerak untuk menjadi pimpinan satuan Pendidikan. Dirjen Jumeri sendiri adalah “alumni” guru penggerak. Ia adalah guru terbaik, kepala sekolah terbaik, Kadisdik terbaik dan kini menjadi Dirjen. Plus Dirjen GTK, Iwan Syahril adalah mantan guru terbaik dan putra guru bahasa Inggris terbaik. Termasuk langka dan wow. Bu Ester dan Pak Jumeri, Pak Iwan Syahril sosok hebat.











