Ragam

Menjadi Manusia Standar

adminsigiku.com
×

Menjadi Manusia Standar

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Dalam setiap “da’wah” dan sejumlah pertemuan dengan entitas tertentu sering Saya katakan, ”Setidaknya hidup kita itu wajib ber-KKM”. Apa itu KKM ? Kriteria Ketuntansan Minimal. Apa hubungannya dengan hidup kita ? Bukankah KKM adalah untuk anak didik ? Ya KKM untuk anak didik namun mengapa tidak kita terapkan juga pada kita orang dewasa ?.

Maksudnya adalah jadilah manusia yang punya “Kriteria Ketuntasan Minimal” dalam hidup. Hidup ber-ISO ! Hidup dengan standar sebagai manusia. Substansinya adalah mengajak kepada semua manusia agar memiliki jauh lebih banyak kebaikan diatas keburukan atau dosa yang kita buat. Memiliki manfaat di atas mudharat yang kita buat. Memiliki kontribusi di atas polusi yang kita ciptakan.

Seorang manusia bila lebih banyak dosanya, mudharatnya, nyinyirnya dibanding kebaikan, manfaat dan apresiasi pada sesama sungguh “tak manusiawi”. Mengapa tak manusiawi ? Karena sejatinya manusia dengan potensi akal dan rasa yang ada dalam diri akan mendatangkan iman dan nalar kewarasan yang baik. Maka dengan iman dan nalar kewarasan dimungkinkan setiap manusia akan lebih dominan baiknya dibanding buruknya.

Orang waras akan lebih banyak berbuat baik dibanding berbuat buruk. Hidup manusia harus punya “KKM” atau ISO yang standar. Tentu ungkapan “Perlakukan orang lain sebagaimana ingin diperlakukan” harus dipraktekan dalam kehidupan setiap manusia. Manusia KKM akan menjadi bagian dari kehidupan sosial yang normal dan wajar. Manusia harus manusiawi tidak Malaikati atau Iblisis.

Manusiawi artinya wajar bila punya banyak dosa selama kebaikannya jauh lebih banyak. Manusia tak harus menjadi Malaikat yang tak punya dosa. Begitu pun jangan sekali-kali meniru Iblis yang tidak ada kebaikannya. Manusia berada diantara performa Malaikat dan Iblis. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan terindah, terbaik dan teragung. Malaikat dan Iblis “kadar” penciptaannya di bawah manusia.

Malaikat dan Iblis pada hakekatnya “melayani” umat manusia. Ada yang mencatat ada yang menggoda. Bahkan bukankah hakekatnya agama, Surga dan Neraka diciptakan adalah untuk manusia ? Semua Allah ciptakan “berkhidmat” untuk manusia. Manusia dalam ilmu biologi sebagai puncak rantai-rantai makanan tertinggi. Dalam ilmu agama manusia pun berada dalam “rantai-rantai spiritualitas” tertinggi.

Allah SWT mengaku bahwa manusia sebagai makhluk diciptakan dengan ciptaan yang paling baik dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Sebagaimana pada firman Allah dalam QS. At-Tin ayat 4, yakni sebagai berikut.”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Adakah yang lebih sempurna dan lebih baik dari manusia ? Tidak ada ! Bahkan sering Saya katakan mengapa Saya tidak tertarik dengan Bidadari di Surga ? Karena Bidadari “kadar” penciptaannya dibawah manusia. Saya tidak mau “turun derajat”.

Mendapatkan ridha Allah adalah derjat tertinggi. Saya lebih menghargai orang berjihad karena ridha Allah bukan karena Bidadari yang bohay, perawan terus dan jumlahnya banyak. Lagian sesuatu yang banyak itu dalam kehidupan duniwi sangat murah. Dalam hukum ekonomi makin banyak segala sesuatu makin tak berharga. Puluhan ribu Bidadari sungguh tak menarik.

Akan lebih menarik bila kelak di Surga berjumpa dengan Allah. Atau kita akan berjumpa dengan ciptaan Allah terbaik yakni semua mantan pacar-pacarmu yang solehah. Ini lebih menarik.

Mari jadilah manusia dengan kualitas KKM yakni lebih banyak baiknya dibanding dosa dan keburukan. Akan lebih baik lagi jadilah manusia yang “melampaui” standar sebagai manusia. Jadilah manusia Ridwan Kamil, eh maksud Saya jadilah manusia berderajat insan kamil.