Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Dahulu sekitar tahun 2019 ada spanduk PPDB dengan tulisan “Hari Gini Masuk Sekolah Negeri ?”. Sebuah ungkapan yang menggelitik dan nehnik agar sekolah swasta menjadi sekolah pilihan. Kata-kata di spanduk atau baliho memang harus unik dan mungkin agak bombastis.
Ungkapan “Hari Gini Masuk Sekolah Negeri?” adalah sebuah ungkapan yang menarik, menggelitik. Sekolah negeri dan swasta hakikatnya sama saja sebagai lembaga layanan pendidikan. Unggulitas sekolah bukan di status melainkan di kualitas SDM dan saran prasarananya. Setidaknya demikian.
Sekolah swasta sudah kontributif bagi bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan RI diraih. Sekolah swasta peranannya sangat luar biasa. Namun pasca kemerdekaan setidaknya ada dua wajah sekolah, yakni sekolah negeri dan sekolah swasta. Sekolah swasta dan negeri yang mapan, favorit sangat tak masalah dalam rekrutmen siswa.
Namun bagi sekolah swasta dan negeri pinggiran yang jauh dari favorit, tidak mudah mendapatkan siswa. Sejumlah sekolah swasta gulung tikar dan ada pula sekolah negeri yang kesulitan mengembangan sekolah karena siswanya sangat sedikit.
Tidak sedikit ada pola yang unik anomalis yakni “membeli” siswa. Siswa agar daftar ke sekolah tertentu “dibeli”, yakni membayar pihak tertentu agar siswa baru mendaftar di PPDB. Setiap siswa misal dibanderol Rp.50 atau Rp.100 ribu. Ini unik dan menggelitik.
Keluarnya diksi promosi dalam sebuah baliho dengan kalimat “Hari Gini Masuk Sekolah Negeri” adalah diantara upaya, modus dan iklan yang menjelaskan realitas tak mudah mendapatkan siswa. Disisi lain bagi sekolah negeri yang berdekatan dengan sekolah dan promosi “menyentil” sekolah negeri tentu akan waspada.
Waspada bagaimana ? Waspada bahwa sekolah negeri harus tampil menggoda pula. Sekolah negeri jangan sampai menjadi sekolah yang terpinggirkan, tak beken dan tak punya branding.
Semoga sekolah negeri dan swasta bisa sama-sama seirama dalam melayani anak didik. Kurangi diksi kompetitif tapi kolaborasi dan saling mendukung.
Sekolah negeri dan sekolah swasta adalah sama-sama sebagai Rumah Ibadah Pendidikan Terbaik. Ungkapan bijak mengatakan, “Sekolah dimana saja sama, negeri atau swasta. Hal yang akan sangat membedakan adalah bagaimana siswa belajar, bukan dimana belajar”. Ungkapan ini sangat baik dan dapat menjadi kritik bagi kita semua.
Anomali dan unikasi dinamika sekolahan, terutama saat PPDB akan selalu ada, ada selalu. Bahkan bila sekolah kecil, pinggiran, sisi gunung, pinggir jurang tak laku, berusaha membeli siswa, bukan “jual bangku”. Hampir tidak ada satu pun pihak eksternal yang peduli. Beda dengan sekolah favorit tengah kota “dikepung” sejumlah orang dengan kepentingan masing-masing.
Sekolah sepi peminat, menuju gulung tikar, hampir tidak ada yang peduli. Akhirnya sejumlah sekolah “tutup usia”. Sekolah favorit, semua orang seolah “peduli” dan banyak yang berkepentingan. Bahkan banyak yang mengaku saudara, so kenal dan ujung-ujungnya modus. Itulah dinamika dunia sekolahan.
Semoga sekolah negeri dan swasta semua bertumbuh dan berkembang dengan baik. Berlomba-lombalah dalam memberikan pelayanan terbaik dan endorse lah sekolah dengan inovasi dan kolaborasi yang anti mainstream. Selamat berjuang ekosistem entitas pengelola sekolahan.













