Pewarta: Dwi Arifin
Koran Sinar Pagi (Cilacap)-, Industri jasa kirim atau ekspedisi TiKi Kantor Cabang Cilacap berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi warga yang berada di pelosok desa. Walaupun petugas kurir TiKi harus menyebrang Lautaan, seperti saat ada pelanggan jasa kirim yang lokasi penerimanya di desa Ujung Gagak Kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap.
Kampung laut merupakan gugusan pulau-pulau kecil di Segara Anakan yang membentuk beberapa desa seperti Desa Ujungalang, Desa Ujunggagak, Desa Klaces dan Desa Panikel. Secara letak geografisnya, Kampung Laut berada disisi Barat Jawa Tengah dan berbatasan dengan Jawa Barat.
Setidaknya terdapat sekitar 15 ribu jiwa penduduk di empat desa yang ada di Kampung Laut yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, petani, produsen gula merah, pengrajin sapu untuk dipasarkan ke luar provinsi Jawa Tengah dan buruh. Sebagai transportasi utama masyarakat di Kampung Laut yakni menggunakan perahu compreng yang dapat ditempuh dalam waktu 2,5-3 jam perjalanan dari Kota Cilacap.
Beberapa potensi terdapat di Kampung Laut, salah satunya adalah Batik Kampung Laut yang dibuat oleh masyarakat Kampung Laut dengan mengangkat motif khas Kampung Laut seperti motif mangrove, ikan, udang dan kepiting. Setidaknya terdapat sekitar 10 motif yang telah dikembangkan oleh warga Kampung Laut sejak tahun 2015.

Soleh Mabrur, Kepala Bagian Kurir TiKi Kantor Cabang Cilacap menceritakan awal perjalanan memasuki wilayah Kampung Laut. “Awalnya kita star atau berangkat dari kantor TiKi Cilacap menuju pelabuhan / dermaga Sleko untuk sampai ke Kampung Laut. Perkiraan waktu yang ditempuh sekitar 2 jam. Perahu yang mengantarkan ke lokasi hanya satu kali beroprasi diwaktu pagi pukul 7:30an untuk pemberangkatan dan jam 13:00wib untuk pemulangan. Biaya pemberangkatan dan pemulangan untuk sampai ke lokasi desa Ujung Alang Kampung Laut, Rp. 50 ribu untuk 1 orang dan 1 kendaraan bermotor,” jelasnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online Koran Sinar Pagi (7-8-2022)
Lebih lanjut Soleh Mabrur menjelaskan di Kampung Laut belum ada kendaraan roda empat atau mobil dan jalannya masih setapak, belum ada jalan yang beraspal, kebanyakan jalannya masih dari tanah. Sehingga saat berpapasan dengan motor lain harus ada yang berhenti satu terlebih dahulu.
Kalau dari kendala atau hambatan pengirim ke lokasi. Biasanya hanya karena kondisi cuaca di wilayah lautan sehingga harus menunda ekspedisinya atau ada sedikit kekhawatiran takut tenggelam diperjalanan, sebab beban perahu membuat jarak antara ujung kapal dengan air laut berdekatan. Beban berlebihan perahu tersebut karena dipenuhi barang dari Cilacap untuk kebutuhan warga disana, di Kampung Laut itu kan belum ada Pasar. Kalau sekolah, sarana ibadah, Puskesmas dan kantor pemerintahan sudah ada.
Menurutnya dari pengalaman pengiriman ke Kampung Laut. Ada kelebihan TiKi, jika dibandingkan dengan jasa kirim lain. TiKi ekspedisinya sampai langsung ke calon penerima, sedangkan jasa kirim lain menitipkan ke tukang perahu untuk diambil oleh penerimanya. Warga juga kaget tapi senang ketika kami memberikan layanan istimewa seperti itu. Kurang lebih rata-rata 10 penerima, kalau dihitung-hitung antara keuntungan dan biaya oprasional sangat jauh. Tapi demi pelayanan dan perluasan akses ke pelanggan, tidak apa-apa, kalau rugi sedikit. Kami juga sedang menargetkan ada agen TiKi di Kampung Laut, karena di sana kalau dilihat belum ada usaha jasa kirim. Warga juga belum mengetahui pentingnya usaha jasa kirim untuk menggerakan ekonomi atau usaha di desanya, padahal ada potensi keuntungan dari sana. Apalagi warga di desa-desanya dan pengurus RT/RWnya, merespon baik kehadiran kurir. Sehingga antara alamat satu dengan yang lain yang dituju juga tidak terlalu sulit, kalau dicari.
Selain itu Soleh Mabrur juga menyatakan bahwa TiKi Cilacap termasuk ekspedisi yang terpilih untuk bekerjasama dengan kantor Pajak Cilacap, seperti jasa kirim yang lainnya. “Kami diberi tugas mengirim NPWP atau Nomor Pokok Wajib Pajak kepada pemiliknya. Mungkin data identitas tersebut dibutuhkan para lulusan Sekolah untuk mencari kerja di luar wilayah. Perihal biaya pengiriman dibayar oleh kantor pajaknya,” katanya
Informasi yang dihimpun koransinarpagijuara.com bersumber dari Wikipedia. Pada tahun 1600, Kerajaan Mataram menempatkan para prajuritnya di Cilacap. Langkah itu dilakukan untuk menjaga pelabuhan Cilacap jika ada orang Portugis, Spanyol, dan Belanda yang datang untuk berdagang.
Para prajurit itu kemudian membuat permukiman di Nusakambangan, yakni di Limusbuntu, Kembang kuning, Lempongpucung, Klapa Kerep, Karangbaja sampai Batu Kelir Barat Laut. Saat itu, daerah tersebut dipimpin oleh Demang Wiryoyudo, selanjutnya diganti Wangsengrana, Udasana, dan Wirasura.
Ketika VOC atau Veerenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang dikenal sebagai Perserikatan Dagang Hindia Timur Belanda, berdiri pada 20 Maret 1602. VOC berupaya melakukan monopoli perdagangan di kawasan Asia pada era kolonialisme Eropa. Saat itu, tujuan pendirian VOC adalah mencegah kerugian akibat persaingan dagang dengan Portugis di Nusantara. Dalam catatan sejarah VOC sempat berkuasa atau menguasai pulau Nusakambangan, para prajurit Mataram terusir. Sampai kemudian memutuskan untuk membuat permukiman di perairan Segara Anakan seperti di Karangkobar, Motean, Panitenan, Klaces, Ciberem, Bugel, Panikel, dan Muaradua.
Daerah itu kemudian disebut “Kampung Laut”. Kini Kampung Laut adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Cilacap. Kampung laut memiliki empat desa yakni Ujung Alang, Ujung Gagak, Panikel dan Klaces.
http://www.koransinarpagijuara.com/2022/08/06/hadapi-pendemi-tiki-cilacap-kuatkan-akses-ekonomi-di-perbatasan-jabar-jateng/
https://www.koransinarpagijuara.com/2022/06/26/media-cetak-diprediksi-lebih-menyehatkan-akal-pikiran-dibandingkan-media-sosial/













