Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Setelah selesai mengajar di ruang kelas, hari ini Selasa tanggal 23 Agustus 2022, sempat seorang guru mengajak diskusi singkat sambil berjalan menuju ruang guru. Ia bercerita tentang dinamika ruang kelas dimana tadi Ia mengajar. Menurutnya dinamika ruang kelas tergantung gurunya.
Selanjutnya Ia pun mengatakan psikologi ruang kelas atau suasana setiap kelas tidak sama. Perlakukan anak didik di ruang kelas sesuai realitas kebatinan dan potensi dasar anak didik. Modal mental dan intelektual anak adalah dasar kita mengajar dan mendidik.
Bila ada ungkapan “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan”. Maka setiap guru sejatinya “memperlakukan” kelas sebagaimana warga kelas ingin diperlakukan. Ungkapan “berhamba pada anak didik” dari Dirjen GTK, Dr. Iwan Syahril, yang mengadaptasi dari Ki Hajar Dewantara, bisa kita maknai implementatif.
Makna implementatifnya adalah layani anak didik di ruang kelas berdasar pada suasana hati anak didik dan ragam potensi setiap anak didik. Tentu Saja setiap guru harus punya kemampuan motivatif, inspiratif dan imajinatif, agar emosi ruang kelas menembus batas ruang dan waktu.
Ruang kelas bisa menjadi ruang apa pun tergantung seting imajinatif dan narasi cerdik Sang Guru. Sang Guru adalah aktor utama yang bisa menstimulus subjek belajar menjadi “terpapar” ghiroh belajar yang antusias. Guru antusias, penuh semangat akan menularkan semangat dan antusiasme pula.
Guru loyo, terlambat, asal asalan dan mengutamakan memberi tugas, bahkan anak disuruh mencatat berlembar-lembar, sungguh tak efektif dan tak asyik. Guru yang mengasyikan Sang Anak Didik adalah guru yang memberi tugasnya sedikit tapi banyak narasi motivatif yang menggugah rasa sebagai seorang pelajar.
Pengajaran akademik itu penting, hal-hal intelektual itu penting, namun kesemuanya tidak lebih penting dari hal non akademik. Lupa rumus, hapalan dan hitungan bisa membuka catatan kembali dan diingat kembali. Lupa diri karena attitude, akhlak tak baik, karakter bermasalah, tak bisa membuka catatan.
Ruang kelas sejatinya adalah ruang dominan penguatan karakter. Plus penguatan ajaran akademik dan intelektual sebagai tuntutan teknis di masa depan anak. Karakter adalah tuntutan praktis humanis di masa depan yang dituntut semua masyarakat dimana pun seseorang berada.
Sebagai ujung dialog dengan seorang guru yang baru keluar ruang kelas, Saya katakan, Mengajar dan mendidik di ruang kelas adalah kesempatan emas cuci dosa. Sang Guru yang Saya ajak dialog mengatakan, “Saya merinding Pak mendengarnya”.
Ya, faktanya kita guru orang dewasa banyak atau tak luput dari dosa dalam keseharian kita. Masuk ruang kelas adalah kesempatan emas beribadah, mengkifarati atau menggugurkan dosa-dosa kita. Caranya dengan mengajar dan mengajak kebaikan pada anak didik yang akan hidup di masa depan.
Jangan sampai *masuk ruang kelas malah nambah dosa* karena kita mendidik dan mengajar asal asalan, atau asal mengajar. Merasa terbebani tugas mengajar bukan merasa bahagia berjihad, niat suci melayani anak didik sebagai warga negara paling istimewa di semua negara dan bangsa. Sekolah adalah rumah ibadah pendidikan terbaik.
Cuci Dosa Di Ruang KelasMenjadi guru adalah menjadi seseorang yang setiap hari berangkat ke rumah ibadah. Setiap orang yang setiap harinya beribadah, panggilan hati, niat suci, betapa istimewanya. Surga terbaik apa bagi mereka kelakn?











