OPINI/Artikel

Bersuka cita ditengah Penderitaan Korban Gempa

adminsigiku.com
×

Bersuka cita ditengah Penderitaan Korban Gempa

Sebarkan artikel ini

Oleh : Destiany Aulia Ramadhani (aktifis remaja)

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 26 November 2022, relawan Jokowi yang tergabung dalam gerakan Nusantara bersatu mengadakan acara pertemuan akbar bersama presiden Jokowi dan para pendukungnya. Silaturami nasional yang mengusung tema “Nusantara Bersatu” itu digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Acara tersebut dihadiri oleh masyarakat dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang, mulai dari Ibu-ibu, anak muda dan juga para santri. Dalam acara tersebut Presiden Jokowi memaparkan Sejumlah pencapaiannya selama memimpin, terutama dalam bidang infrastruktur. Pada kesempatan itu juga jokowi menjabarkan sejumlah catatan penting untuk dicermati terkait sosok dan kriteria calon presiden. Namun, beredar kabar, bahwa massa yang menghadiri gelaran pesta yang bertajuk Nusantara bersatu tersebut mengaku kecewa karena acara yang tersaji tidak sesuai dengan info yang disebarkan, dimana pada awal info, masyarakat yang diikut sertakan diajak untuk mengikuti sholawat qubro namun pada faktanya adalah kampanye pemilu 2024. Kekecewaan pun nampak dari para peserta, dimana mereka merasa dibohongi terkait acara yang dilaksanakan tersebut.
Dampak dari acara tersebut menyisakan begitu banyak sampah yang berserakan mengotori stadion utama gelora bung Karno dengan total sampah sekitar 31 ton. Seketika, Penampakan lautan sampah yang memeruhi stadion utama Gelora Bung Karno tersebut menjadi sorotan publik dan berujung viral di media sosial. Sehingga Dinas Lingkungan Hidup di DKI Jakarta harus mengerahkan 500 personel pasukan oranye untuk membersihkan dan mengangkut sampah. Selain personel, pihaknya juga mengerahkan 28 unit mobil lintas, 14 unit mobil sapu jalanan serta 10 unit truk. Sementara dilain tempat, banyak masyarakat yang sedang berjuang di tengah kesulitan hidup dan juga masyarakat yang bertahan ditengah Musibah Gempa bumi yang bertitik di wilayah Cianjur, Jawa Barat. Para korban gempa sedang berduka hati, mereka kehilangan harta, tempat tinggal, sodara, tempat belajar bagi anak anak dan juga tempat ibadah yang hancur karena gempa bumi.

Negeri ini memang tengah berduka, bertubi-tubi bencana menimpa. Banjir, longsor dan gempa bumi susul menyusul merambah ke banyak wilayah negeri ini.
dan ironisnya, ditengah berbagai bencana dan musibah yang melanda, pemimpin seakan menutup mata dan telinga dengan keadaan masyarakatnya. Dia sibuk memikirkan kedudukan jabatan dan kekuasaan dengan berbagai cara, tak peduli baik atau buruk, benar atau salah. Mengedepankan pencitraan dan mengesampingkan kejujuran tanpa memikirkan nasib para korban gempa bumi Cianjur yang mereka mengharapkan uluran tangan, bantuan terkait pangan, sandang dan papan. Mirisnya lagi, disaat pendistribusian bantuan berlangsung, ada oknum pungli yang menghambat kinerja para relawan bagi korban bencana. Sungguh, sudah tak ada lagi rasa simpati dan empati baik itu pada diri penguasa negri ataupun pada diri oknum-oknum pungli. Inilah buah hasil pemerintah negeri yang mengusung sistem demokrasi kapitalis sekuler, sulit untuk diharapkan bisa memperhatikan nasib rakyatnya.

Sementara dalam sistem Islam, seorang muslim tentu memiliki kewajiban untuk menolong dan membantu saudara-saudaranya yang sedang ditimpa kesulitan, termasuk akibat banjir, gempa dan bencana lainnya. Namun demikian, tanggung jawab terbesar sesungguhnya ada di pundak negara sebagai pengurus, pelayan dan pelindung rakyat. Sudah seharusnya negara mengupayakan penanggulangan bencana dan senantiasa stand by dalam menangani bencana dan korbannya.
Seperti halnya Umar bIn Khattab, beliau tidak pernah bisa tidur karena memikirkan rakyatnya, beliau takut disaat tertidur dengan enak sementara rakyatnya ada yang kelaparan. Dan begitupun Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, Umar bin Khaththab berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”, Dengan begitu jelas bahwa, Langkah awal yang dilakukan ketika terjadi bencana adalah mengajak bertaubat sambil mengingat kemaksiatan apa yang dilakukan sehingga Allah menurunkan bencana alam. Hal ini menjadi penjaga kesadaran dan ruhiyah masyarakat.
Dalam konteks penanganan terhadap musibah, sistem islam menggariskan kebijakan-kebijakan komprehensif yang tegak atas akidah islamiah. Prinsip-prinsip pengaturannya didasarkan pada syariat Islam dan ditujukan untuk kemaslahatan rakyat. Penanganan bencana ini meliputi penanganan prabencana, ketika, dan pascabencana.
Para pemimpin dalam islam sangat paham, jika melayani rakyatnya dengan pelayanan yang baik, niscaya mereka akan mendapatkan pahala dan kebaikan yang melimpah. Sebaliknya, jika ia lalai dalam melayani urusan rakyatnya, niscaya kekuasaan yang ada di tangannya justru akan menjadi sebab penyesalan dan kehinaan dirinya kelak di hari akhir. Maka sudah saatnya kita sebagai kaum muslim kembali kepada ajaran Islam Kaffah, karena Islam solusi untuk segala permasalahan yang terjadi di dunia dengan merujuk kepada Al-qur’an dan As-Sunah, Pasti kita semua merasakan keberkahan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Wallahu ‘alam bisshowab