Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikian)
Dunia dalam versi sejarah terbagi ke dalam tiga wajah. Wajah masa lalau (kuno), masa kini (kontekstual) dan masa depan (disruptif). Ketiga dimensi waktu dan dinamika ini berkelindan, tak bisa dipisahkan. Rumus hidup harus sesuai zamannya, setiap zaman ada fenomenanya.
Hidup adalah sebuah proses perkembangan dan perubahan berkelanjutan. Hakikat hidup dalam versi filsafat adalah perubahan, tidak ada yang abadi. Hal abadi hanya Allah yang maha abadi, tak berawal dan tak berakhir. Kita semua dan makhluk selain Tuhan adalah berubah.
Termasuk para Nabi dan kitab suci ada zamannya, ada perubahannya. Sejak Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW adalah sebuah proses perubahan dinamika kehidupan manusia. Zaman akan terus berubah dan berubah, bahkan makin tak terduga perubahannya.
Hal – hal kuno, masa lalu dan narasinya sudah tak kontekstual harus direinterpretasi. Zaman para Nabi tidak ada pesawat terbang, tidak ada komputer, tidak ada kendaraan listrik, tidak ada handphone. Dunia terus berkembang, Allah ciptakan demikian.
Kebudayaan manusia akan terus loncat dan berubah. Mengapa? Karena Allah, Tuhan yang maha Esa memang mendesignnya demikian. Mengapa Allah, Tuhan yang maha Esa menjelaskan bahwa manusia adalah ciptaan_Nya yang terbaik? Diantaranya karena Ia akan berkebudayaan.
Hanya manusia yang berkebudayaan, makhluk lain ciptaan Allah, Tuhan yang Esa tidak berkebudayaan. Kebudayaan adalah sebuah realitas kehidupan manusia yang utama dan niscaya. Manusia hidup dengan kebudayaan ibarat badan dan akalnya.
Tanpa berkebudayaan manusia akan musnah. Badan manusia tanpa akal yang melahirkan kebudayaan ibarat binatang, tidak punya akal, hanya berotak tak berakal. Akal pikiran manusia inilah yang menjadikannya sebagai ciptaan Tuhan teragung.
Keagungan Tuhan diantaranya terpancar dalam ciptaan_Nya yakni manusia. Manusia Tuhan ciptakan dengan akalnya. Akal manusia ini diciptakan mendahului apa pun yang Ia terima dari sekitarnya. Akal pikiran manusialah yang mewajibkan dirinya untuk beriman, beragama dan berbuat baik.
Agama, iman dan kebudayaan adalah untuk makhluk berakal, yakni hanya manusia. Manusia hidup tak bisa pisah dengan kebudayaannya. Manusia bisa hidup di mana pun dan dalam kondisi apa pun, itulah kebudayaan. Hal kuno, kontekstual dan disruptif terkait kebudayaan manusia.
Hanya dengan berkebudayaan manusia bisa hidup di zaman kuno, zaman moderen dan zaman super modern. Sisi lain ada agama yang lahir di zaman kuno, semuanya lahir di masa lalu. Tidak ada agama lagi di masa depan. Agama dan para Nabi sudah selesai membawa pesan.
Namun, apa yang terjadi? Agama dan para Nabi sudah selesai membawa pesan tapi zaman tak pernah selesai terus berkembang. Disinilah dibutuhkan kemampuan manusia menterjemahkan pesan-pesan keagamaan di masa lalu, masa kuno ke masa kini yang modern.
Bila pesan pesan di masa kuno, zaman kuno dan sudah ratusan tahun berlalu disajikan sama kunonya akan masalah. Hal yang harus dilakukan adalah reinterpretasi dalam bahasa kekinian, dengan tetap membawa pesan-pesan esensial universalnya.
Manusia tidak bisa hidup tanpa berkebudayaan. Termasuk agama apa pun dan semua para Nabi tidak bisa menyebarkan pesan Tuhan tanpa melalui kebudayaan. Kebudayaan baik adalah “ayat-ayat” Tuhan yang mendahului ayat-ayat tertulis.
Manusia dan agama tak bisa hidup tanpa kebudayaan. Kebudayaan adalah sebuah realitas transformatif yang tak bisa dipilih manusia, manusia wajib berbudaya. Beda dengan agama dan hal lainnya, bisa dipilih dan diwariskan.
Tidaklah heran Bung Karno mengatakan bila kita ber_Tuhan maka ke_Tuhanan kita adalah ke_Tuhanan yang berkebudayaan. Ini pun kontroversial. Bung Karno bisa jadi menghendaki setiap manusia yang ber_Tuhan dan beragama harus berseirama dengan kebudayaan manusia.
Agama itu untuk “kebudayaan” manusia, agama itu untuk manusia. Jangan sampai terbalik manusia untuk agama. Manusia adalah senter kehidupan. Ia menjadi asbab segala budaya dan kepercayaan yang ada. Bahkan Surga pun adalah untuk manusia, bukan manusia untuk Surga.
Bung Karno mengatakan “Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Dan hendaknya negara Indonesia satu negara yang bertuhan!” Bung Karno bukan manusia biasa, Ia punya nalar di atas rata-rata, walau pun Ia tetap sebagai manusia biasa.
Indonesia bukan negara agama, kita semua harus bersyukur. Di Indonesia tidak ada negara agama, agama negara. Semua warga negara bebas melanjutkan agama warisannya dan memilih agama yang diimaninya. Hidup di Indonesia adalah hidup di negara yang sangat kaya raya.
Indonesia adalah negara yang ber_Tuhan dan beragama. Dalam sila Pancasila jelas sekali “Ketuhanan dan Kemanusiaan” dua hal esensial yang utama. Beriman dan bermanusia, beriman dan bermanfaat bagi sesama manusia. Mari kita semua untuk memahami hal kuno, hal kekinian dan hal disruptif.
Eranya kolaborasi adalah eranya kombinasi pemikiran dan implementasi kehidupan yang harmoni segala warna. Dalam kitab suci disebutkan kehidupan berawal dari air. Bukankah bayangan Pelangi terkait pancaran matahari dengan air? Artinya kehidupan memang harus berwarna bagai Pelangi.
Jangan “menghakimi” warna karena warna adalah ciptaan Tuhan. Apalagi menganggap warna kita adalah warna terbaik yang diridhoi Tuhan, dan makasa orang lain sewarna. Padahal semua warna ciptaan Tuhan. Allah, Tuhan yang maha Esa meridhoi warna warni kehidupan yang baik. Asal, beriman dan bermanfaat bagi sesama.











