AkademiaRagam

Bahas Kemitraan 74 Media Massa di Rancaekek ?… Jurnalis Independen Bersatu Berbeda Pendapat Dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah

adminsigiku.com
×

Bahas Kemitraan 74 Media Massa di Rancaekek ?… Jurnalis Independen Bersatu Berbeda Pendapat Dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah

Sebarkan artikel ini

Pewarta: Ako / Andi Sovian

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Kegiatan konsolidasi dan silaturahmi yang di adakan oleh Kelompok Kerja Kepala Sekolah / K3S, Persatuan Guru Republik Indonesia / PGRI Kecamatan Rancaekek dan jajarannya, bersama para perwakilan media massa yang selama ini bermitra dengan Satuan Pendidikan, khususnya yang ada di wilayah Rancaekek Kabupaten Bandung. Dilaksanakan di Gedung PGRI Rancaekek Kabupaten Bandung (18/03/2023)

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Kecamatan Rancaekek, Yayan Suryana, S.Pd., M.Pd pada awal sambutannya, menyampaikan nasihat agama yang berisi “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi,” (HR. Bukhari – Muslim)

Selanjutnya mengapresiasi keberadaan Media Cetak dan Online yang berkesempatan hadir pada acara silaturahmi tersebut. “Terimakasih kepada sodara-sodara para perwakilan media massa yang telah hadir, Kami menghargai keberadaan wartawan baik cetak maupun online. Melalui kemitraan atau komunikasi yang sinergis antara pengelola lembaga pendidikan dan media massa,” Ucapnya Yayan kepada 74 perwakilan media massa yang diundang.

Pada kesempatan terebut, Yayan Suryana, S.Pd., M.Pd menarasikan bahwa Revolusi Industri 4.0 merupakan upaya transformasi menuju perbaikan dengan mengintegrasikan dunia online dan produksi industri, melalui proses interaksi dengan basis internet. Sehingga meningkatkan dan memudahkan konektivitas, interaksi, antara manusia, teknologi mesin dan sumber daya lainnya agar terhubung melalui teknologi informasi atau alat komunikasi.

Yayan mengatakan sekarang para praktisi pendidikan memahami bahwa akses berita online lebih cepat merambah di era teknologi digital saat ini. Tak sedikit dalam hitungan menit berita online tersebut menjadi viral dengan jumlah pembaca atau Netizen yang banyak. Sehingga keberadaan media online yang cenderung lebih hemat biaya menjadi pilihan sebagai sumber informasi dari pada media cetak yang masuk ke sekolah dan sempat kita baca-baca cenderung plagiat atau hanya memberikan informasi yang sudah lama terjadi.

Selain itu, Yayan Suryana S.Pd, M.Pd juga menyampaikan perubahan nama bantuan oprasional sekolah menjadi bantun oprasional satuan pendidikan dan membahas keluhan dari para kepala sekolah perihal adanya pihak wartawan yang tidak mengutamakan etika saat berkunjung ke sekolah atau menghubungi narasumbernya. Bahkan banyak yang hanya mencari keuntungan pribadi, sehingga menjadi beban pihak sekolah.

“Selain itu, tidak adanya dukungan anggaran untuk oprasional atau kebutuhan satuan kerja yang telah dibentuk oleh Bupati Bandung. Padahal para kepala sekolah mengharapkan dan membutuhkan adanya dana tersebut. Mohon dibantu, komunikasikan oleh media massa ke Bupati agar kebutuhan dananya dapat dianggarkan oleh pemerintah kabupaten Bandung,”ungkapnya

Hj. Elis Pristiwati, S.Pd M.M, Ketua PGRI Kecamatan Rancaekek Tahun 2020-2025 mengungkapkan bahwa silahturahmi dengan wartawan merupakan bagian dari program kerjanya selama menjabat sebagai ketua PGRI. Harapannya melalui pertemuan ini lebih saling mengenal antara satu dengan yang lain, khususnya pihak media massa dengan kepala sekolah dan PGRI.

Pada saat diskusi tentang kemitraan media massa, Wawan Nurjaman S.Sos, M.M, Ketua Umum Organisasi Profesi Jurnalis Independen Bersatu menyatakan tidak sependapat jika dinarasikan revolusi industri membuat media online lebih unggul atau bahkan menggeser & manghapus peran media cetak. Justru keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Apalagi media cetak memiliki proses yang lebih selektif untuk menghasilkan berita yang lebih mendalam atau menyeluruh dan berkualitas. Supaya tetap menjadi pilihan sumber bahan bacaan dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat atau karismatik untuk publik bacanya. Sehingga dari segi beban oprasional media cetak lebih mahal, karena adanya proses layout pracetak, editing hingga proses cetak berbentuk Koran, Majalah atau Tabloid dan distribusi ke lintas daerah, membutuhkan sumber daya manusia yang lebih banyak. Maka jangan sampai seolah-olah ada upaya menghilangkan eksistensi media cetak secara perlahan-lahan yang selama ini ada dengan membenturkan antara eksistensi media cetak dengan media online.

Kepala Pusat Pengolahan Data, Penelitian dan Pengembangan Organisasi Profesi Jurnalis Independen Bersatu, Dwi Arifin mengungkapkan saat ini perusahan media cetak yang bertahan otomatis memiliki media online sebagai pelengkapnya untuk kebutuhan publik bacanya. Sedangkan perusahan berbasis media online belum tentu memiliki media cetak untuk memperluas akses informasinya atau meningkatkan jumlah pembacanya.

Selain itu jangkauan media cetak juga dapat lebih jauh, karena masih bisa dinikmati oleh publik baca di daerah yang belum terakses internet atau warga yang tidak memiliki alat komunikasi berbasis internet, bahkan anak-anak pelajar yang masih dibatasi usianya untuk memiliki handphone, karena dikhawatirkan cenderung mengantarkan atau terjerumus ke pergaulan bebas yang berdampak negatif.

“Apalagi media cetak memiliki sejarah dalam upaya kemerdekaan Indonesia sebagai sarana atau alat komunikasi perjuangan rakyat dan sampai sekarang media cetak masih tetap berkomitmen hadir mengisi kemerdekaan dengan berperan menguatkan budaya baca atau membangun literasi lebih sehat untuk para pelajar dan mahasiswa atau guru & dosen yang merupakan program Kementrian Pendidikan. Sehingga kehadirannya harus dilestarikan atau dipertahankan,”ucapnya

Pada akhir pertemuan tersebut disepakati K3S, PGRI dan Kepala Sekolah di Rancaekek bersama perwakilan media massa untuk membentuk “Forum Wartawan Mitra K3S & PGRI Rancaekek”. Sehingga nantinya terjalin komunikasi yang efektif dan lebih sinergis.

https://www.koransinarpagijuara.com/2022/06/26/media-cetak-diprediksi-lebih-menyehatkan-akal-pikiran-dibandingkan-media-sosial/