OPINI/Artikel

Apapun Spesiesnya, Wanita Selalu Benar

adminsigiku.com
×

Apapun Spesiesnya, Wanita Selalu Benar

Sebarkan artikel ini

Penulis : Farhan Ramadhan,
Pembelajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya Palembang

Perempuan selalu benar seringkali kita dengar baik itu pada realita maupun media sosial.Ungkapan ini muncul ketika perempuan beradu argumen dan menjadi umum dimasyarakat disaat mereka malas atau merasa tidak bisa menjawab argumen lawan bicaranya yaitu perempuan.

Dimedia sosial seringkali kita dengan pada kolom komentar berisikan lelucon-lelucon perempuan selalu benar hal ini terjadi biasanya dikarenakan perempuan yang ngeyel kalo dikasih tau, ataupun perempuan yang tidak mau argumennya di anggap salah, padahal hal semacam itu tidak seharusnya menjadi sesuatu yang “layak” untuk dijadikan semacam lelucon, sebagai jembatan informasi antara peristiwa dan masyarakat umum, media bertanggung jawab besar terhadap bagaimana ia membingkai berita atau tulisannya.

Seperti The Guardian yang mengubah cara penulisannya dari climate change menjadi Climate Emergency atau crisis yang memperlihatkan bagaimana cara pandang kepentingan suatu permasalahan. Pada kasus Kesetaraan Gender pada perempuan media bisa memilih kata kata yang cocok di sematkan kepada perempuan.

Tentu saja lelucon semacam ini bukan hanya kalimat yang tidak memiliki arti belaka, kalimat tersebut mengandung ucapan merendahkan gender yang bertujuan kepada perempuan. Hal ini hampir sama dengan kalimat “ Laki-laki tidak boleh menangis”, “Laki- laki kok cengeng”, padahal hal seperti itu bukan menandakan seseorang lemah melain memang seutuhnya manusia.

Belum lama ini pada timeline media sosial TikTok saya terdapat konten yang mengandung lelucon “Perempuan Selalu Benar” dan pada kolom komentarnya terdapat beberapa komentar yang menurut saya sangat merendahkan derajat perempuan.

Kira-kira begini isi komentarnya “Kelebihan wanita Cuma 1 hidup di dunia ini, Cuma bisa kasih keturunan, selebihnya sikapnya nyusahin, padahal ada yang simpel tapi mereka ingin yang ribet” dan komentar seperti ini didukung oleh laki-laki lain yang tidak memiliki respect terhadap perempuan. “Betul, tugas mereka di bumi ini cuma kasih keturunan dan membesarkan anak, selain itu semua tugasnya cowok”, “Yoi bro, harusnya mereka cari pasangan dukun aja,bisa baca pikiran dan baca hati, jadi gampang di ngertiin..”

Seriusan ada yang berpikir seperti ini ya? Kira-kira seperti itu saya berekspresi, Perempuan dipandang hanya sebagai penghasil keturunan, mengurus rumah dan selebihnya ? Ya menurut orang orang diatas adalah beban. Bukannya ketika sudah berada pada pernikahan bukan hanya berjalan sendiri namun berdua menghadapi rintangan bersama-sama. Padahal semua hal yang bisa dilakukan laki-laki itu juga bisa dilakukan perempuan. Laki-laki hanya tidak bisa menerima hal itu.

Dan tidak seharusnya lelucon-lelucon demikian dianggap umum dimasyarakat, Apa karena perempuan adalah manusia yang moodnya berubah-ubah? atau karena perempuan yang sifatnya ngeyel? atau karena perempuan keras kepala?.

Semua hal diatas sejalan dengan makna konotatif “Perempuan Selalu Benar” berlawanan dengan apa yang ada direalitanya ketika perempuan sering disalahkan atas pemikiran dan tindakannya.

Penekanan pada satu gender yaitu perempuan tidak hanya seperti hal ini masih banyak hal-hal lain yang memiliki bahasanya sendiri namun dengan tujuan yang sama yaitu menyudutkan hak perempuan dan dibungkus dengan kalimat seperti “lelucon” dan “candaan”.

Setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda, mungkin mereka memiliki sifat manja,keras kepala,childish bahkan emosi yang tidak bisa ditahan, namun hal itu Bukan karena perempuan tapi karena mereka manusia.