OPINI/Artikel

Jadi Relawan Demokrasi atau Relawan Nabi?

adminsigiku.com
×

Jadi Relawan Demokrasi atau Relawan Nabi?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nia Umma Zhafran (Ibu Rumah Tangga)

Pemilu Pilpres 2024 sebentar lagi. Berbagai macam koalisi dan klaim dukung-mendukung dalam pemilu sudah ramai diperbincangkan oleh partai-partai politisi, hingga relawan. Banyaknya orang berbondong-bondong dan menjadi relawan Capres di musim Pilpres menjadi hal wajar dalam Demokrasi. Seperti yang dilansir dari Fajar.co.id (11/11/2023), menginfokan bahwa sayap relawan cawapres Anies-Muhaimin (AMIN) memperkuat basis di Bandung Raya. Gerakan Nasional Pemantau AMIN, Saksi AMIN dengan sukarela terus mensukseskan simpul-simpul relawan di berbagai wilayah di Indonesia.

Gerakan relawan yang baru dibentuk (2/11) disekitar Bandung ini dideklarasikan Forum Anies Bandung Raya (FBR), yang berbasis dikawasan Baleendah, Kabupaten Bandung Selatan. Simpul FBR sendiri didirikan oleh tokoh-tokoh dari berbagai elemen masyarakat. Yakni dari tokoh pengusaha, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh ormas lainnya. FBR menargetkan sebanyak mungkin pembasisan warga Bandung Raya untuk bergabung berjuang bersama-sama memenangkan pasangan AMIN di Pilpres 2024.

Seseorang menjadi relawan tentunya ingin adanya perubahan, dengan meyakini perubahan itu akan terwujud oleh Capres yang diusungnya. Seperti dengan lolosnya Capres yang diusungnya, ia berharap akan mendapat pekerjaan yang lebih layak atau jabatan yang lebih. Adapula yang menjadikannya sebagai bisnis semata, bisnis menjadi buzzer Capres. Hal ini berpotensi disusupi berbagai kepentingan serta menimbukan adu domba para tokoh politik juga masyarakat. Kondisi ini juga mengakibatkan rakyat terpolarisasi dan umat terpecah belah. Inilah fakta dalam politik demokrasi, semua mencari jalan untuk menang dan berkuasa dengan memanfaatkan suara rakyat. Mirisnya saat telah berkuasa, aspirasi rakyat dikhianati. Pengalaman ini sejatinya sering dialami rakyat setiap pesta Pemilu Demokrasi.

Dalam orientasi politik Islam nampak jelas bukan meraih kekuasaan setinggi-tingginya. Kekuasaan hanyalah sebagai jalan untuk menegakkan hukum-hukum Allah SWT. Sementara tujuan politik dalam Islam adalah menerapkan syari’at Islam sebagai solusi fundamental bagi permasalahan umat manusia. Karena Islam tidak hanya mengurusi masalah ibadah ritual saja tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan. Politik Islam lah yang mampu melahirkan pemimpin dan politisi amanah yang peka dan peduli terhadap seluruh persoalan umat. Pemimpin menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai bekal utama dalam menjalankan aturan-aturan Islam hingga terwujud kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat. Sistem politik ini yang harusnya diperjuangkan umat.
Nah, bagi kita sebagai umat Islam yang meyakini perubahan akhir zaman yang meyakini bisyarah dari Nabi Muhammad SAW akan datangnya nubuwah Khilafah, tentu kita mengambil sikap berlomba-lomba untuk menjadi relawan Nabi atau pun sebagai agen perubahan yang akan berjuang untuk mewujudkan janji Nabi tentang nubuwah Khilafah. Yakni melanjutkan kembali kehidupan Islam.

“Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang zalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang, lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaj al-Nubuwwah. Setelah itu, beliau diam.” (HR. Ahmad)

Dengan meyakini akan nubuwah Nabi SAW, tentu saja akan membuat kita termotivasi oleh besarnya pahala bagi siapapun yang akan berjuang untuk menegakkannya. Bayangkan, saat daulah Islam tegak, saat hukum Islam diterapkan, saat risalah Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia, betapa besarnya pahala yang diterima oleh para pejuang.

Karena itu, daripada sibuk menjadi relawan Capres dalam sistem demokrasi, yang tidak jelas akan seperti apa masa depan syariat Islam, lebih baik kita berfokus menjadi relawan Nabi, menjadi agen pejuang Khilafah. Menjadi pengemban dakwah Islam yang meyakini perubahan dan kemaslahatan hanya akan terwujud dengan Islam. Karena Islam rahmat bagi seluruh alam.

Menjadi Relawan Nabi, berarti berani mengkampanyekan syariat Islam yang dibawa Nabi, bukan demokrasi yang dibawa montesqueue. Menjadi Relawan Nabi, artinya menjadikan asas perjuangan hanya dengan Islam. Bukan dengan jalan kompromi, kepentingan jabatan atau kekuasaan. Menjadi Relawan Nabi, menghadirkan seluruh sebab yang menjadikan turunnya pertolongan Allah SWT, sehingga Khilafah dapat diwujudkan. Tentunya dengan memberikan pembelaan, dukungan dan pengorbanan dengan fokus memperjuangkan syariat Islam.

Dengan keadaan sekarang, yang jauh dari kata sejahtera. Tentu kita perlu memposisikan diri untuk perubahan yang lebih baik. Apakah akan menjadi relawan dalam demokrasi yang telah terbukti memberikan solusi yang pragmatis dan perubahan ilusi, ataukah menjadi relawan Nabi yang memberikan solusi hakiki sesuai dengan aturan Sang Khaliq? Dimana peradaban Islam telah mencatat kegemilangannya selama 13 abad dan menguasai dunia 2/3 dunia dibawah naungan Khilafah.

WalLaahu a’lam Bish-Showwab