OPINI/Artikel

Tawuran Dosa Siapa ?

adminsigiku.com
×

Tawuran Dosa Siapa ?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)

KH Syaiful Karim dalam sebuah ceramah mengatakan, “Anak yang lahir dari buah peluk cinta kasih kedua orangtua, akan lahir penuh cinta”. Keluarga dan lingkungan yang baik akan membesarkan anak terus menumbuhkan cinta kasih bagi Sang Anak.

Nah bagaimana dengan anak pesuka tawuran, terlibat tawuran dan selalu merasa punya “kehormatan” bila tawuran? Ini masalah kita bersama, masalah semua pihak. Faktanya tawuran tak pernah berhenti, masih terjadi di mana-mana.

Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim sebelum keluarnya Permendikbud Ristek No 46 Tahun 2023, menyebut ada tiga dosa besar dalam dunia pendidikan kita, yakni : Perundungan, Kekerasan Seksual dan Intoleransi (PKSI).

Puluhan tahun PKSI ini terjadi dalam dunia sekolahan dan pendidikan kita. Termasuk tawuran yang merupakan bagian dari kompleksitas perundungan, terus terjadi. Korban anak didik terus berjatuhan.

Siapa yang salah? Pertanyaan ini bermaksud bukan untuk menyalahkan sejumlah pihak, melainkan memberikan telaah untuk sejumlah pihak, reflektif, sadar bersama untuk seirama cegah perundungan dan tawuran dengan serius.

Pokus dan locus terkait tawuran pelajar benar-benar harus ditangani dengan serius. Tidak formalistik, adminsitratif dan musiman. Lakukan sejumlah langkah melekat antisipatif dan preventif. Tawuran terjadi buah akumulasi realitas diferensiasi anak didik yang tidak terdalami.

Ungkapan bijak mengatakan “Tidak ada anak yang salah”. Bahasa UURI dan bahasa agama pun esensinya mengatakan “setiap anak harus dilindungi, terlindung dan berhak bahagia”. Mengapa masih ada anak yang “bahagia” dan merasa jago bila tawuran?

Sebagai praktisi pendidikan, bertahun-tahun terlibat menangani tawuran pelajar, setidaknya ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan bersama.

Pertama, pastikan setiap sekolah melakukan asesmen awal dengan sangat mendalam. Pastikan setiap anak terutama yang berpeluang tawuran ditangani dengan sangat baik dan bijak. Anak bermasalah membutuhkan kasih sayang lebih dan layanan terbaik.

Kedua kolaborasi pihak terkait. Orangtua dengan sekolah, sekolah dengan sekolah rawan tawuran, sekolah dengan pihak pemerintah setempat, sekolah dengan tokoh masyarakat, sekolah dengan tokoh alumni, sekolah dengan phsikolog bila perlu.

Ketiga lakukan penanganan berbeda pada anak didik bermasalah. Hindari pendekatan sanksi, menghakimi, menggunduli dan mempermalukan anak di depan umum. Anak adalah anak, Ia manusia yang sedang mencari jati diri.

Penanganan anak dengan pendekatan non edukatif, non pedagogik akan sulit berhasil. Dunia anak butuh pendekatan khusus dari semua pihak terkait, sebagaimana narasi di atas. Anak didik saat ini sudah “terkontaminasi” banyak hal.

Kihajar Dewantara dulu menyebut Tri Pusat Pendidikan sebagai bagian dari dunia anak didik. Sekolah, Keluarga dan Masyarakat (SKM) bagian dari dunia anak didik kita. Kini sudah berubah. Kini ada dua dimensi baru yang lebih dominan.

Dimensi apa? Dimensi dunia maya dan teman sebaya. Ini jauh lebih melekat dan mempengaruhi kepribadian anak didik. Anak didik melekat dengan HP dan dunia mayanya, plus gaul sebayanya. Tawuran pun terjadi karena dua dimensi ini, diantaranya.

Sebagai pendidik, khusus orangtua dan guru, lakukan hal Dekapan Adam. Apa itu Dekapan Adam? Dekati, Kenali, Pantau, Apresiasi dan Dampingi (Dekapan Adam). Setidaknya langkah ini bisa meminimalisir dan melakukan layanan pedagogik pada setiap anak didik.

Terutama bagi anak anak pelaku tawuran dan rawan terlibat tawuran lakukan Dekapan Adam. Insyaallah, setiap anak akan merasa diperlakukan dan dilayani dengan baik oleh sekolah, orangtua dan semua pihak. Hindari menghakimi, kuatkan apresiasi dan motivasi.