Hilangnya Nurani Seorang Ayah

0
244

Oleh : Reni Juariah (Ummu Warobatul Bait

Ketika seorang anak berharap akan mendapatkan perlindungan dari sosok yang sebenarnya harus ia dapatkan dari seorang ayah kini malah sebaliknya. Bayangkan bagaimana mungkin seorang ayah tega membunuh semua anaknya, sudah matikah  nuranimu ?

Di beritakan dari JAKARTA, KOMPAS.com -mengabarkan  Panca Darmansyah (41) mengaku membunuh keempat anak kandungnya di dalam rumah kontrakan wilayah nya “Terhadap keterangan tersangka, dalam hal ini Saudara P (Panca).  (8/12/2023).

Banyak nya kasus pembunuhan dipenghujung tahun ini tentu sebab banyak faktor. kurangnya keimanan dan rasa takut nya terhadap hukum Allah menjadikan seseorang dengan mudahnya melakukan perbuatan diluar nalar. Akibatnya manusia jadi lebih mudah tersulut emosi. Tidak mampu  berpikir panjang dan bersikap sabar. Parahnya lagi faktor dukungan dari kebebasan media, lingkungan, tempat tinggal tidak jarang turut memperburuk cara pandang masyarakat sehingga perbuatan kriminal bermotif nekat dan berwujud keji bisa terjadi.

Adapun di rumah tidak lagi tercipta suasana hidup yang penuh persahabatan dan kasih sayang diantara sesama anggota keluarga. Malah tidak terjamin keamanan dilingkungan rumah sendiri. Yang seharusnya seorang ayah menjadi perisai bagi anak-anak nya saat ini malah bisa saja menjadi sosok yang menakutkan. Mungkin peran seorang ayah sudah berubah menjadi telor bagi keluarga nya sendiri Jika hidup jauh dari aturan akibatnya akan demikian. Sejauh ini perhatian dari aparat setempat pun kurang didapatkan bertindak jika ada laporan. Visi pelayanan dan pengayoman terhadap urusan keamanan masyarakat tidak mewarnai peran mereka sebagai pilar utama sistem keamanan di dalam wilayah. Namun, satu hal yang pasti, interaksi   haruslah berlandaskan kesadaran akan hubungan dengan Sang , Allah Taala.

Berbeda dengan peran orang tua di masa kejayaan Islam, benar-benar menjadi pelindung, pendidik bagi anak-anaknya. Karna memahami tugas menjadi orang tua yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas semua upaya yang telah dilakukan semasa hidupnya, Dan hanya sistem Islam lah yang mampu memuliakan peran orang tua.

“Tiada seorang anakpun yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia beragama Yahudi, Nasrani dan Majusi”
(HR. Bukhari).

Demikian semestinya prinsip interaksi di tengah anggota keluarga, yakni dalam rangka mewujudkan interaksi yang sahih berdasarkan aturan Islam. Tidak semestinya hubungan antara anggota keluarga dibangun atas landasan manfaat ataupun materi. Interaksi seperti ini tidak akan bertahan lama, tetapi cepat atau lambat bisa merenggangkan hubungan keluarga. Allah sudah menentukan pahala terhadap sagala perbuatan baik ataupun buruk.
[MuslimahNews/2023,12,15]

“Semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban ”
(AQS. Al-Isra:36)

Wallahu a’lam bissawab