OPINI/Artikel

Duta Baca Remaja

adminsigiku.com
×

Duta Baca Remaja

Sebarkan artikel ini

Oleh: Heni Ruslaeni (Ibu Rumah Tangga)

M Purnama Alam selaku Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bandung saat melaksanakan sosialisasi dan pembekalan kepada peserta Duta Baca Remaja 2024 di Hotel Citere, Pangalengan, Selasa (5/3/2024). Dalam sambutannya, Bupati Bandung Dr. H Dadang Supriatna, S.IP, M.Si., melalui Kepala Dispusip Kabupaten Bandung H. Teguh Purwayadi., S.STP, M.Si., mengatakan bahwa duta baca bukan hanya harus dapat memahami literasi, tetapi juga harus mampu mengetahui sejarah dan seluk beluk kondisi sosial masyarakat Kabupaten Bandung.

Duta baca harus bisa menjadi ujung tombak dalam meresonansi kegiatan literasi dalam masyarakat. Kadis Pusip juga mengungkapkan duta baca harus paham dan menguasai digitalisasi dalam menunjang penyebaran literasi untuk kesejahteraan dan mendorong terwujudnya generasi emas 2045. Salah satunya untuk menumbuhkan budaya literasi yang berbasis digitalisasi sesuai dengan situasi saat ini sedang terjadi pada anak-anak dan khususnya pada remaja. Maka dengan hadirnya Duta Baca Remaja Kabupaten Bandung tahun 2024 dapat menjadi salah satu jembatan untuk menuju tahun ke-emasan 2045.

Tidak banyak remaja, terutama kalangan pelajar yang ngeh dengan peringatan Hari Literasi Internasional tanggal 8 September lalu. Berawal pada 1965 diselenggarakan konferensi United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dengan tema “World Conference of Ministers of Education on the Eradication of Illiteracy” di Teheran, Iran. Kemudian pada 1966, UNESCO memimpin dan mendeklarasikan tanggal 8 September ditetapkan sebagai International Literacy Day (Hari Literasi Internasional) atau Hari Literasi Nasional.

Tujuannya untuk mengingatkan komunitas global tentang pentingnya literasi bagi individu, komunitas, dan masyarakat, serta sebagai upaya menuju masyarakat yang lebih melek huruf demi menciptakan kesejahteraan dunia. Dunia literasi, erat kaitannya dengan dunia pendidikan, makanya pemerintah menggencarkan program melek huruf nasional alias penuntasan generasi buta huruf. Lantaran kemampuan literasi secara istilah diartikan sebagai keterampilan individu dalam berbahasa, mulai dari menulis, membaca, berbicara, menghitung hingga kemampuan untuk memecahkan masalah. Siapa saja yang minim kemampuan literasinya akan kesulitan berbahasa dan bersosialisasi. Padahal, ini penting banget untuk menyiapkan masa depan remaja yang lebih baik.

Namun, gimana dengan minat baca dan tulis mereka? minat baca siswa di Indonesia dikabarkan sangat rendah, bahkan menurut data dari UNESCO, minat baca siswa di Indonesia sangat memprihatikan, hanya 0,001 % (artinya dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membacanya. Durasi waktu membaca orang Indonesia per hari rata-rata hanya 30-59 menit, kurang dari sejam, sedangkan jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Itulah salah satu bukti budaya literasi di Indonesia masih sangat rendah. Angka membaca Indonesia sangat jauh tertinggal. Sementara masyarakat di negara maju rata-rata menghabiskan waktu membaca 6-8 jam per hari. Anehnya, orang Indonesia mampu menghabiskan waktu 5,5 jam sehari untuk bermain gawai atau gadget.

Orang yang memiliki budaya literasi yang baik ditandai dengan gemar membaca dan menulis. Aktivitas membaca dan menulis adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Orang harus mau membaca jika ingin menulis. Membaca adalah memasukkan kata-kata ke dalam pikiran, sementara menulis adalah menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Ketika saat ini pemerintah dan pegiat pendidikan sedang semangatnya mengampanyekan pentingnya literasi, ajaran Islam sejak lama sudah menekankan pentingnya literasi. Hal ini tecermin dari kewajiban menuntut ilmu yang tidak terpisahkan dari kegiatan membaca dan menulis. Ajaran Islam mendorong umatnya agar menjadi manusia-manusia yang berilmu.

Mencari ilmu diwajibkan sejak seorang manusia lahir hingga meninggal dunia, dan umat Islam diwajibkan mencari ilmu walau harus pergi ke negeri Cina. Dengan ilmu yang dimilikinya, mereka diharapkan dapat menjadi pelita bagi yang lain, dan dapat beramal saleh. Kebaikannya akan terus mengalir, baik di dunia maupun di akhirat. Menjadi sebaik-baiknya manusia yang paling bermanfaat bagi yang lain. Dalam ajaran Islam, orang yang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya. Allah swt menegaskan dalam firman-Nya.
Wa’allahhualam bishsawab.