Kabupaten Bandung Barat Masuk Tiga Besar Stunting di Jabar

0

Pewarta : Herlina SC

Kab. Bandung Barat – Tingginya angka stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menjadi perhatian. KBB masih berada di 3 (tiga) besar kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tertinggi di Jawa Barat. Salah satu faktor yang dinilai memperburuk kondisi tersebut adalah masih banyaknya masyarakat yang menganggap kental manis sebagai susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Persoalan itu mengemuka dalam pertemuan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Muslimat NU di Ngamprah, Selasa (21/7/2026). Ke 3 (tiga) pihak sepakat memperkuat edukasi gizi sebagai langkah menekan angka stunting.

Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail mengatakan, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, masih banyak orangtua yang keliru menjadikan kental manis sebagai minuman utama anak, padahal produk tersebut bukan sumber gizi untuk mendukung tumbuh kembang.

“Kesalahpahaman ini harus terus diluruskan. Kental manis tidak bisa dijadikan sumber gizi utama bagi anak,” tegas Asep.

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, Erna Yulia Sofihara menambahkan, konsumsi gula berlebihan dapat membuat anak cepat kenyang sehingga mengurangi asupan makanan bergizi yang dibutuhkan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gizi buruk hingga stunting.

Karena itu, Muslimat NU bersama YAICI mendorong penggunaan istilah “kental manis” tanpa embel – embel “susu” agar masyarakat tidak lagi memiliki persepsi keliru mengenai fungsi produk tersebut.

Sementara itu, Sekretaris YAICI Satria Yudistira mengungkapkan hasil survei Universitas Islam Bandung (Unisba) menunjukkan 67,7 persen masyarakat Indonesia masih menganggap kental manis sebagai susu. Di Jawa Barat, tingkat kesalahan persepsi masih berkisar 24 – 25 persen, sehingga menjadi salah satu wilayah prioritas edukasi.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan KBB, dr. Enung Masruroh, menegaskan kandungan gula pada kental manis mencapai 40 – 60 persen, sehingga tidak dapat disamakan dengan susu.

“Kental manis sebaiknya hanya digunakan sebagai pelengkap atau penyedap makanan, bukan sebagai minuman utama anak,” ujarnya.

Selain berpotensi memicu stunting akibat pola konsumsi yang keliru, penggunaan kental manis secara berlebihan juga dinilai dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes pada anak.

Pemkab Bandung Barat pun berkomitmen memperkuat edukasi gizi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting.