Pewarta : Fadhel
Kota Sukabumi – Sebelum hiruk-pikuk aktivitas Kota Sukabumi dimulai, Udin Abidin sudah lebih dulu menggelar lapaknya. Sejak sebelum pukul 08.00 WIB, satu per satu bendera merah putih ditata rapi. Tangannya yang mulai renta tetap cekatan menata dagangan, berharap ada pembeli yang singgah.
Bagi Udin, bendera bukan sekadar barang dagangan. Setiap helai kain merah putih menjadi sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga sekaligus menjaga tradisi yang telah ia jalani selama puluhan tahun.
Pria berusia 77 tahun asal Nyomplong, Kota Sukabumi, itu telah berjualan bendera setiap momentum kemerdekaan sejak 1990. Tiga puluh enam tahun berlalu, namun ia masih setia menempati lapak yang sama.
“Berjualan dari tahun 90-an. Itu awal mula berjualan biasa, sepi-sepi dulu. Lama-kelamaan sudah pada tahu saya jualan bendera di sini, terus menetap,” ujar Udin saat ditemui di lapaknya, Kamis (14/8/2026) sore.
Namun, ada yang berubah dalam puluhan tahun perjalanan Udin. Jika dulu pembeli datang silih berganti, kini ia harus berhadapan dengan perubahan perilaku konsumen akibat menjamurnya perdagangan daring.
Ketika Online Menggerus Lapak Pinggir Jalan
Udin mengaku penjualan bendera mulai merosot dalam sekitar lima tahun terakhir. Harga yang ditawarkan melalui platform online sering kali lebih murah dibandingkan harga yang harus ia tetapkan di lapaknya.
“Karena ada online, bendera itu penjualnya turun. Ini kan saya beli bendera plastik dari tokonya Rp6.000, dari online bisa Rp4.000. Orang-orang belinya ke online, seperti bendera umbul-umbul, background, ke online terus,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat omzet Udin kini jauh menurun. Dalam sehari, ia rata-rata hanya memperoleh sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000.
Angka itu terpaut jauh dari masa ketika perdagangan online belum menjadi pilihan utama masyarakat. Saat itu, Udin mengaku mampu mengantongi omzet hingga Rp600.000-Rp800.000 per hari.
“Dulu bisa sehari itu Rp600.000-Rp800.000. Kalau sekarang mah alhamdulillah ada pemasukan, ada sedikit-sedikit,” katanya.
Meski demikian, Udin masih melihat celah dari kebutuhan masyarakat yang menginginkan barang secara langsung. Bendera yang dibeli di lapaknya bisa langsung dibawa pulang tanpa harus menunggu proses pengiriman.
“Kadang-kadang kalau orang pengen belanja sekarang, pengen ada sekarang, baru beli ke sini. Kalau online kan nunggu dua hari,” ujarnya.
Berharap Pemerintah Berpihak pada Pedagang Kecil
Di tengah lesunya penjualan, Udin masih menyimpan harapan. Ia berharap pemerintah daerah tidak hanya mengimbau masyarakat memasang bendera merah putih, tetapi juga mendorong agar semangat kemerdekaan memberi manfaat ekonomi bagi pedagang kecil.
Menurutnya, pemerintah dapat mengeluarkan imbauan kepada ASN dan pegawai pemerintahan agar membeli bendera dari pedagang kecil di wilayah masing-masing.
“Seharusnya ada pemberitahuan atau imbauan dari Wali Kota, misalnya harus pasang bendera dan belinya sekalian memakmurkan UMKM sekitar,” katanya.
Bagi Udin, keberpihakan tersebut bukan semata-mata demi meningkatkan penjualan dirinya. Lebih dari itu, ia ingin perjuangan pedagang kecil yang setiap tahun turut menghidupkan suasana kemerdekaan tidak dilupakan.
“Bukan saya tukang bendera pengen laku, tapi seharusnya perjuangan teh diingat-ingat. Pemerintah mendorong dengan kebijakan,” ucapnya.
Di usia 77 tahun, Udin masih berdiri di balik lapaknya, menunggu pembeli datang. Di antara deretan merah putih yang ia jajakan, terselip kisah tentang ketekunan, perubahan zaman, dan harapan agar kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan memasang bendera, tetapi juga menghadirkan keberpihakan bagi mereka yang menggantungkan hidup dari setiap lembar kain merah putih.













