Pewarta : Anis
Balikpapan – Mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tak melulu soal padamkan api. Di Kalimantan Timur, TNI Angkatan Laut justru memilih bergerak dari desa ke desa untuk memadamkan api sebelum menyala.
Melalui Tim Penyuluh Pencegahan Karhutla TNI AL, prajurit matra laut turun langsung menyambangi petani, pekebun, pelajar, hingga perusahaan. Mereka berdialog, memeriksa bekas kebakaran, hingga demonstrasi penggunaan APAR.
Pesan yang dibawa sederhana namun tegas : jangan gunakan api untuk membuka lahan. Langkah ini sangat krusial. Data BPBD Kaltim hingga 21 September 2026 mencatat sudah 1.470 kejadian kebakaran dengan total lahan terbakar 6.333 hektare. Titik panas pun kembali naik setelah sempat turun pasca Operasi Modifikasi Cuaca.
Di minggu keempat September, gerakan masif ini terus berlanjut. Di Balikpapan, tim menyasar Baru Ilir, Margo Mulyo, Kariangau, Tritip dan Manggar. Di Samarinda menyasar sekolah dan Koramil. Di Bontang, Kukar, Kutim, Berau, Kubar, Paser hingga PPU, semua disisir tanpa terkecuali.
Ketua Tim Penyuluh Karhutla TNI AL Kaltim, Brigjen TNI (Mar) Said Latuconsina, menegaskan pencegahan adalah kunci utama.
“Tugas kami bersama satuan kewilayahan adalah memberikan penyuluhan dengan mendatangi desa dan kelurahan yang memiliki wilayah hutan dan lahan, kemudian berdialog langsung dengan masyarakat,” ujar Said.

Menurutnya, masyarakat adalah mata dan telinga pertama. Jika melihat asap, segera lapor ke Koramil, Polsek, atau Lurah.
“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas aparat. Masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah kebakaran sejak awal,” tegasnya.
Dari laut, TNI AL hadir di darat. Medannya bukan lagi kapal perang, tapi kebun, sekolah, kantor kecamatan, dan lokasi bekas kebakaran. Karena kebakaran yang berhasil dicegah, tidak akan pernah menjadi berita besar. Dan itulah keberhasilan yang sesungguhnya.













