Ragam

Bandung Dance Festival 2026 Tekankan Pentingnya Menjaga Akar Tradisi di Era Digital

adminsigiku.com
×

Bandung Dance Festival 2026 Tekankan Pentingnya Menjaga Akar Tradisi di Era Digital

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Ida

Kota Bandung – Kemajuan teknologi dan digitalisasi dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan seni dan budaya tradisional. Di tengah perkembangan tersebut, seniman dituntut mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi akar karya seni.

Pesan itu mengemuka dalam penyelenggaraan Bandung Dance Festival (BDF) 2026 bertema “Fragmentasi Tubuh dalam Jejak Digital” yang digelar Program Studi S – 1 Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, pada 30 – 31 Oktober 2026.

Konseptor BDF 2026, Dr. Alfiyanto, mengatakan festival ini berfokus pada pengembangan tari kontemporer berbasis tradisi. Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah pola interaksi sosial, termasuk dalam proses penciptaan dan perkembangan seni tari.

Ia menilai, pergeseran komunikasi dari interaksi langsung ke ruang digital turut memengaruhi hubungan antarmanusia dan interaksi sosial dalam dunia kesenian.

“Hal paling mudahnya terlihat dari cara berkomunikasi kita saat ini, yang tadinya face to face, sekarang semua ada di dunia maya. Apakah jadi lebih baik, atau sebaliknya, karena tidak ada interaksi sosial. Begitu juga yang terjadi di dunia seni tari sekarang, semakin minim interaksi sosial,” ungkap Alfiyanto.

Meski demikian, ia menegaskan tidak menolak modernisasi maupun perkembangan teknologi. Sebaliknya, kemajuan tersebut harus dimanfaatkan sebagai ruang pengembangan seni tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.

Menurutnya, tantangan saat ini adalah semakin banyak generasi muda yang kurang mengenal seni tradisi sendiri akibat perubahan zaman. Kondisi tersebut perlu dijawab dengan menghadirkan tradisi lokal dalam bentuk karya yang relevan dengan perkembangan seni kontemporer.

“Tidak ada yang salah dengan modernisasi. Malah seharusnya kita tampilkan tradisi lokal kita supaya bisa mengglobal,” ujarnya.

Alfiyanto menegaskan, eksplorasi seni boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi akar budaya harus tetap menjadi pijakan utama.

“Konsep kontemporer itu hanya soal waktu, tapi akarnya harus tetap budaya kita, tradisi kita, tanahnya tetap tanah kita. Jangan sampai lepas dari akarnya,” tegasnya.

AI Bukan Ancaman bagi Seni Tradisi

Sementara itu, Ketua Pelaksana BDF 2026, Mohamad Raka Reynaldi, menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan sebagai perangkat pendukung kreativitas seniman, bukan ancaman bagi keberadaan seni tradisi.

Menurutnya, AI dapat membantu seniman mengembangkan gagasan, menuangkan konsep artistik ke dalam tulisan, hingga mendukung proses dokumentasi dan pengarsipan karya seni.

“Terkadang, seniman punya ide. Bisa menggerakkan tapi sulit menuliskan. Di sinilah bantuan AI diperlukan. Selain juga bisa membantu mengarsipkan tulisan untuk menjadi gerak tari,” katanya.

Dalam festival tersebut, sebanyak 11 peserta dari berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Singapura, menampilkan karya tari hasil proses kreatif masing – masing. Seluruh peserta telah melalui tahapan kurasi sebelum tampil dalam festival.

Ketua Jurusan Seni Tari ISBI Bandung, Ai Mulyani, S.Sn., menambahkan, seni tradisi Indonesia memiliki daya tarik tersendiri di tingkat internasional.

Berdasarkan pemaparan sejumlah narasumber, minat terhadap tradisi tari Indonesia juga terlihat dari berkembangnya kelas – kelas tari tradisional di sejumlah negara dengan jumlah peminat yang cukup besar.

Kondisi tersebut menunjukkan seni tradisi Indonesia memiliki peluang untuk berkembang di panggung global.

Melalui Bandung Dance Festival 2026, ISBI Bandung mendorong pengembangan seni tari yang adaptif terhadap perubahan zaman, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa inovasi dan modernisasi tidak harus menghilangkan akar budaya dan identitas tradisi.