Pewarta : Herlina SC
Kab. Bandung Barat – Sesar Lembang bukan sekadar garis patahan yang membelah kawasan Bandung Utara. Bagi Kabupaten Bandung Barat (KBB), keberadaan sesar aktif itu menjadi salah satu ancaman bencana yang harus diantisipasi karena berpotensi berdampak terhadap penduduk, permukiman hingga aktivitas ekonomi.
Dalam dokumen Rencana Kontingensi (Renkon) BPBD Kabupaten Bandung Barat 2026, skenario gempa akibat aktivitas Sesar Lembang memperkirakan 1.768.353 jiwa dapat terdampak. Angka tersebut tersebar di seluruh kecamatan, dengan Kecamatan Lembang menjadi wilayah yang diperkirakan memiliki jumlah penduduk terdampak terbesar, yakni 211.159 jiwa.
Skenario tersebut juga memperkirakan 1.237.847 jiwa harus mengungsi. Sebanyak 8.843 orang diperkirakan tidak dapat dievakuasi, termasuk sekitar 36 jiwa yang dalam skenario tersebut meninggal dunia akibat tidak berhasil dievakuasi.
Dampak terhadap permukiman juga diperkirakan sangat besar. Dokumen tersebut mencatat 661.207 unit rumah berpotensi terdampak akibat guncangan gempa.
Angka-angka itu merupakan skenario dalam rencana kontingensi, bukan prediksi bahwa seluruh dampak tersebut pasti terjadi.
Sesar Lembang sendiri merupakan sesar aktif yang berada di utara Bandung. BMKG mencatat jalurnya mencapai sekitar 30 kilometer dan memiliki laju pergeseran sekitar 5 milimeter per tahun. Kajian yang dirujuk BMKG memperkirakan gempa maksimum dari Sesar Lembang dapat mencapai M6,8.
Catatan sejarah juga menunjukkan aktivitas gempa pernah terjadi di kawasan tersebut. BMKG mencatat gempa besar di sepanjang Sesar Lembang pernah terjadi pada 1699, 1834 dan 1900.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD KBB Dedi Supriadi mengatakan pihaknya baru memperbarui dokumen rencana kontingensi kebencanaan, termasuk skenario menghadapi potensi gempa Sesar Lembang.
“Memang kami baru selesai memperbaharui dokumen rencana kontingensi kebencanaan, termasuk di dalamnya potensi bencana Sesar Lembang,” kata Dedi, Rabu (23/9/2026).
Menurut Dedi, skenario evakuasi telah disusun dalam dokumen tersebut. BPBD juga terus melakukan sosialisasi agar masyarakat mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
“Di dokumen renkon kita sudah skenariokan ke mana warga harus evakuasi. Tentunya kita antisipasi dan waspadai potensi pergerakannya dengan terus sosialisasi dan membentuk rencana kontingensi itu,” ujarnya.
Sosialisasi dilakukan melalui perwakilan masyarakat di setiap desa. Mereka diharapkan menjadi penghubung BPBD dalam menyampaikan informasi kebencanaan kepada warga.
BPBD juga membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) yang melibatkan relawan, PKK, pemerintah desa, TNI dan Polri.
“Semua berperan untuk mengedukasi masyarakat terutama lansia dan anak – anak soal Sesar Lembang ini. Bagaimana dan ke mana mereka harus menyelamatkan diri,” kata Dedi.
Dampak Tak Hanya Korban dan Rumah
Ancaman Sesar Lembang dalam skenario BPBD KBB tidak berhenti pada korban jiwa, rumah rusak dan pengungsian. Guncangan besar juga berpotensi mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Dokumen Renkon memperkirakan kerugian ekonomi dapat mencapai sekitar Rp. 5,699 triliun, terutama akibat kerusakan fisik infrastruktur dan terhentinya aktivitas perekonomian.
Sektor perdagangan, pertanian, pariwisata dan jasa berpotensi ikut terdampak. Kerusakan pasar, pertokoan, fasilitas usaha, hotel, restoran serta kawasan wisata dapat menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
Infrastruktur transportasi juga menjadi titik penting. Kerusakan jalan dan jembatan di kawasan padat seperti Padalarang, Ngamprah dan Batujajar maupun wilayah perbukitan Lembang dapat menghambat mobilitas warga, distribusi logistik serta proses evakuasi.
Jaringan listrik, telekomunikasi dan air bersih juga masuk dalam sektor yang berpotensi terganggu.
Dampak terhadap fasilitas publik pun tidak kecil. Sebanyak 1.178 sarana pendidikan, 129 gedung perkantoran, 137 fasilitas kesehatan dan 1.089 tempat ibadah diperkirakan dapat mengalami kerusakan dalam skenario bencana tersebut.
BPBD Jawa Barat sendiri pada Januari 2026 menyebut hasil rencana kontingensi di tujuh kabupaten/kota di Bandung Raya menunjukkan potensi dampak luas apabila Sesar Lembang mengalami gempa. Karena itu, koordinasi lintas wilayah menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan.
Warga Minta Mitigasi Tak Sekadar Sosialisasi
Kekhawatiran terhadap potensi gempa Sesar Lembang juga dirasakan warga yang tinggal di sekitar jalur patahan.
Shoffa Asykari, warga Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, meminta edukasi kebencanaan diperkuat, terutama bagi anak – anak sekolah.
Menurutnya, simulasi langsung lebih mudah dipahami anak-anak dibandingkan sosialisasi yang hanya berupa penyampaian materi.
“Ya betul harus diprioritaskan edukasi ke sekolah terutama anak SD. Anak SD itu kan harus simulasi, mereka lebih senang praktik daripada mendengarkan ceramah,” ujarnya.
Ia juga mengusulkan penggunaan media visual seperti film dokumenter maupun animasi agar edukasi kebencanaan lebih mudah diterima anak – anak.
Sementara Gunawan, warga Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, berharap sosialisasi mengenai potensi gempa dilakukan secara rutin.
“Jarang ada sosialisasi terkait potensi gempa Sesar Lembang. Yang ditakutkan tiba – tiba terjadi gempa di atas 3 magnitudo,” katanya.
Namun, Gunawan juga mengingatkan agar informasi mengenai Sesar Lembang disampaikan secara proporsional. Menurutnya, pemberitaan yang terus – menerus mengenai ancaman gempa terkadang justru membuat warga resah.
“Kalau dibilang capek, jelas capek. Banyak berita soal Sesar Lembang malah bikin warga Lembang resah, stres, takut. Bagaimanapun kita yang tinggal di Lembang harus terus beraktivitas setiap hari, bekerja, sekolah,” ujarnya.
Karena itu, kesiapsiagaan menjadi titik penting. Sesar Lembang merupakan ancaman yang perlu diperhitungkan, tetapi waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan. Langkah yang dapat dilakukan masyarakat adalah memahami risiko, mengetahui jalur evakuasi dan mengikuti simulasi kebencanaan secara berkala. Edukasi dan latihan kesiapsiagaan semacam ini juga telah dilakukan BPBD bersama masyarakat di Bandung Barat.













