Akademia

Tekuni 5 Bidang, Tokoh Santri Uswah Syauqie Bagikan Ilmu Sukses Menulis Buku

adminsigiku.com
×

Tekuni 5 Bidang, Tokoh Santri Uswah Syauqie Bagikan Ilmu Sukses Menulis Buku

Sebarkan artikel ini

Pewarta: Dwi Arifin
(Koran SINAR PAGI)-, Tokoh Santri Uswah Syauqie nama pena dari penulis buku mayor berjudul “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian” (Penerbit: Quanta) dan buku fiqih untuk mata pelajaran atau buku lainnya sebagai bahan referensi pendidikan di pesantren.

Uswatun Hasanah, S.H.I., M.Pd., menjelaskan nama Uswah Syauqie merupakan nama pena, perpaduan nama diri dengan nama suami. Nama itu munculkan sebagai personal branding dan kelihatannya satu-satunya nama tersebut yang ada di publik.

“Berbeda dengan Uswatun Hasanah sudah banyak nama disekitar saya dan ruang publik yang memakainya” jelasnya penulis yang berlatar belakang pesantren yang saat ini sedang berkuliah doktoral bidang pendidikan, saat wawancara khusus sebagai tokoh santri bersama Koran SINAR PAGI dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (16/10/2025)

Kalau ditanya tentang dunia membaca. Sejak anak-anak sudah suka membaca Majalah Bobo, bahan bacaan khusus anak-anak. Setelah remaja mulai belajar di pesantren membaca kitab turots atau mata pelajaran di pesantren.

Sedangkan ketika memasuki kuliah, mulai membaca Tafsîr al-Mishbâh tafsir Al-Qur’an karya Muhammad Quraish Shihab, buku-buku karya KH Ahmad Mustofa Bisri, atau lebih dikenal dengan Gus Mus, buku karya KH Faqihuddin Abdul Kodir dan bahan bacaan lainnya yang khusus membahas tentang pengalaman perempuan.

“Serta referensi buku dari Mahaguru saya dalam kepenulisan yang bernafaskan keadilan hakiki bagi perempuan. Seperti Bunyai Nur Rofiah, Buya Husein Muhammad, Prof. Nassaruddin Umar” ucapnya

Uswah Syauqie memiliki kesibukan sebagai pembisnis fashion (konfeksi dan jilbab printing) dan farfum. Da’iyah yang menjalani rutinitas dibidang pendidikan pesantren hingga perguruan tinggi, penulis buku, penulis berbagai media massa, redaktur media online dan mengelola youtube yang diberi nama Rundingan untuk menginsiprasi followernya atau berinteraktif dengan relasi seperjuangannya.

Uswah Syauqie saat ini mulai fokus menyempatkan mempelajari untuk menguasai Bahasa Inggris sebagai kompetensi baru dalam dirinya.
“Dulu sempat menjadi narasumber, lalu ada dari orang Amerika yang bertanya. Dia kesulitan menggunakan bahasa Indonesia, sehingga Dia bertanya menggunakan bahasa Inggris dan saya tidak paham. Pada momen lain, ada permintaan dari panitia seminar untuk menjadi narasumber dengan memakai bahasa Inggris. Ke dua hal itu, membuat menyadari pentingnya bahasa Inggris untuk dipelajari” ungkapnya Da’iyah yang cenderung mudah ceria, akrab dan wajahnya dominan dihiasi senyuman saat berbicara dihadapan publik.

Perkembangan dakwahnya, berawal dari tulisan. Lalu sekarang mauidoh hasanahnya dapat dikonsumsi publik langsung dari lisannya.

“Kondisi generasi saat ini yang lebih suka menonton/mendengar dari pada membaca tulisan. Sehingga perlu memulai mempublikasikan pesan-pesan dakwah disampaikan melalui video dan disebar melalui media sosial yang dikelola oleh tim” ungkapnya ulama perempuan yang berupaya tegas dan adil dalam menyikapi berbagai hal yang dihadapi oleh kaumnya.

Uswah Syauqie menceritakan tentang kebutuhan membaca buku dan proses menjadi penulisnya.
“Sebulan kalau sedang semangat membaca 5 buku tebal, sekitar 200-300 halaman perbuku dapat diselesaikan. Sedangkan perihal proses menghasilkan buku itu. Sekitar 14 bulan dari menghimpun dan menyempurnakan berbagai tulisan yang sempat disebar di media online. Ketika berhasil diterbitkan, dari setiap bukunya ada keuntungan 10%. Cetakan pertama total 1500 buku, beredar dalam waktu 38 hari, sekarang lanjut cetakan ke 2. Buku ada yang sampai dipesan ke Hongkong atau melalui PCI Nahdlatul Ulama di Jerman, Cina atau negara lainnya sebagai referensi tambahan, ” ucapnya

Menurutnya sebagai penulis yang berkarakter santri, tidak ada tirakat khusus yang dijalani dalam proses menulisnya. Tetapi dalam kesuksesan menulisnya, ada hal yang menjadi prinsip dan dipegang teguh ialah berbasis human etika riset, menulis dengan jujur, jangan menyinggung atau menyakiti mahluk lain. Serta sebagai santri harus mengutamakan isi tulisan berdasarkan Al Qur’an, Hadist shohih dan kutipan atau rangkuman dari ulama yang berpikir global & populer di masanya.

Dari redaktur media online menjadi editor berbagai buku, Uswah Syauqie mengungkapkan dari pengalamannya sebagai penulis. Hal yang paling berkesan ialah saat karya tulisnya diapresiasi dan sempat dapat cerita dari pembaca bukunya. Ketika sepasang suami istri akan berniat bercerai, tetapi Alhamdulillah setelah keduanya membaca buku itu, berupaya saling mempertahankan dan memperbaiki diri.
“Perihal harapan jangka panjang dari buku yang diterbitkan atau dibaca oleh publik ialah dapat memberikan pemahaman untuk membangun keluarga yang islami, serta menjadi bahan bacaan yang relevan untuk berbagai kalangan atau segala zaman yang akan dilalui” ungkapnya.