Pewarta : Red
Jakarta – Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp. 16.250 per liter memicu gelombang kritik dari masyarakat yang menilai beban hidup semakin berat di tengah mahalnya kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Menanggapi sorotan publik tersebut, PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia masih tergolong lebih murah dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa harga bensin dengan kualitas setara RON 91 hingga RON 92 di beberapa negara tetangga telah mencapai kisaran Rp. 20.000 hingga Rp. 23.000 per liter. Angka tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan harga Pertamax yang berlaku saat ini.
Menurut Pertamina, perbandingan tersebut penting untuk memberikan perspektif kepada masyarakat bahwa harga BBM di Indonesia masih berada di bawah harga pasar internasional meskipun mengalami penyesuaian.
“Kondisi pasar energi global saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup berat akibat berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik dan tingginya harga minyak mentah dunia,” kata Sigit.
Namun, argumentasi tersebut belum sepenuhnya meredam keresahan masyarakat. Bagi sebagian konsumen, persoalan utama bukanlah bagaimana harga BBM Indonesia dibandingkan negara lain, melainkan bagaimana daya beli masyarakat menghadapi kenaikan harga yang terus terjadi di dalam negeri.
Kenaikan Pertamax menjadi Rp. 16.250 per liter dinilai cukup signifikan dan berpotensi menggerus anggaran rumah tangga, terutama bagi kelompok pekerja dan pelaku usaha yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari – hari.
Di tengah lonjakan biaya hidup, masyarakat kini dihadapkan pada pilihan sulit, antara mengurangi mobilitas, beralih ke bahan bakar dengan kualitas lebih rendah, atau menambah alokasi pengeluaran untuk transportasi. Situasi ini semakin terasa ketika kenaikan BBM datang bersamaan dengan meningkatnya harga sejumlah kebutuhan pokok dan biaya hidup lainnya.
Pengamat menilai, meski secara regional harga BBM Indonesia masih lebih rendah, pemerintah dan Pertamina tetap perlu memperhatikan kemampuan masyarakat dalam menyerap setiap kenaikan harga. Sebab bagi konsumen, yang dirasakan bukan perbandingan dengan negara lain, melainkan dampak langsung terhadap pengeluaran sehari-hari.
Perdebatan pun mengemuka, apakah perbandingan harga dengan negara tetangga cukup relevan ketika kondisi pendapatan dan daya beli masyarakat Indonesia juga berbeda ? Pertanyaan inilah yang kini menjadi sorotan publik di tengah polemik kenaikan harga Pertamax.













