Tiga Wajah Pengurus PGRI

0

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Dewan Pembina PGRI dan Ketua DPP AKSI)

Dalam tulisan sebelumnya saya katakan secara objektif bahwa PGRI adalah organisasi profesi guru terbesar di Indonesia. Hari Guru Nasional pun diambil dari hari lahir PGRI. Sisi lainnya, PGRI adalah organisasi guru terkecil dalam memberi peluang pada guru aktif untuk menjadi ketua organisasi.

Mulai dari PGRI tingkat Kota, Provinsi dan PB PGRI tidak ada ketua dari guru murni. Semua Ketua PGRI mulai dari PGRI Kota/Kabupaten/Provinsi/Pusat, tidak ada guru murni yang jadi ketua. Nama organisasi memang berlabel guru tapi para ketuanya sudah bukan guru lagi. Ini masalah internal organisasi PGRI.

Bila ada pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru aktif menjadi ketua dan pengurus PGRI akan sangat-sangat baik. Mengapa ? Karena mereka adalah bagian dari ruh dan dinamika keseharian guru yang ada di setiap sekolahan. Derita guru itu dominan adanya di sekolahan. Membela guru, memperjuangkan martabat guru terkait apa yang terjadi di sekolahan.

Bila kita mau bedah setidaknya ada tiga wajah pengurus PGRI. Pertama wajah pengurus “PGRI Biologis”. PGRI biologis adalah para pengurus yang lahir dari “rahim” keluarga guru. Ia lahir dari keluarga guru dan menganggap profesi guru sebagai profesi turun temurun. Sebelum menjadi guru mereka hidup di keluarga guru.

Kedua wajah pengurus “PGRI Ideologis”. PGRI Ideologis adalah para pengurus PGRI yang murni menegakan martabat guru atas dasar idealisme. Mereka benar-benar melakukan apa pun demi memperjuangkan martabat guru. Idealismenya “Dari Guru, Oleh Guru, Untuk Guru Demi Bangsa”. PGRI Ideologis militansinya luar biasa.

Ketiga pengurus “PGRI Pragmatis”. PGRI Pragmatis biasanya tidak ada latar belakang sebagai guru jenjang pendidikan SD/SMP/SMA. PGRI Pragmatis bisa datang “ujug-ujug” di PGRI. Tidak pernah menjadi pengurus di ranting, cabang, kota/kabupaten dan provinsi. Ujug-ujug jadi pengurus, mendadak dangdut.

Rusaknya PGRI bisa datang dari wajah PGRI pragmatis. Mereka hanya mencari kehormatan karena di tempat lain gagal merintis karir dan kehormatan. Atau mereka hanya mencari nafkah “memanfaatkan” iuran PGRI yang nilainya fantastis. Diri dan keluarganya numpang hidup di PGRI. Bahkan tidak sedikit yang menggiring PGRI pada kepentingan pencalegan.

PGRI biologis, PGRI ideologis adalah modal PGRI ke depan. PGRI pragmatis adalah biang masalah pada masa depan PGRI. Orang yang tidak pernah menjadi guru (SD/SMP/SMA sederajat) sebaiknya tidak usah terlalu nyosor menjadi ketua atau pengurus. Mengapa ? Dapat dipastikan tujuannya adalah pragmatis. Orang yang tidak pernah menjadi guru sebaiknya menjadi Dewan Pembina atau anggota kehormatan saja.

PGRI aliran pragmatis kalau sudah tidak jadi pengurus pasti “lenyap” dari perjuangan PGRI. Mengapa ? Karena mereka tidak tercatat di ranting, tidak bayar iuran dan bukan berasal dan tidak pernah menjadi guru. Saat sudah bukan pengurus Ia akan lenyap karena bukan anggota ranting, tidak bayar iuran dan kesehariannya tidak berhubungan dengan guru.

PGRI ujug ujug, PGRI pragmatis, PGRI mendadak dangdut dan PGRI cabutan pasti tidak pernah menjadi pengurus PGRI di jenjang bawah sebelumnya. Bisa karena otoritas seseorang atau seorang pimpinan maka seseorang bisa “mendadak dangdut” jadi ketua atau pengurus. Kedepan pastikan semua pengurus PGRI pernah menjadi pengurus PGRI di jenjang bawah.

Para pengurus PB PGRI harus berasal dari PGRI Provinsi atau kabupaten kota. Para pengurus PGRI Provinsi harus berasal dari pengurus PGRI kabupaten kota dan kecamatan. Begitu seterusnya. Agar tidak ada “Alien” di dalam struktur kepengurusan PGRI. Terutama di PGRI pusat. Ini bahaya dan akan berpeluang menyimpangkan ruh perjuangan martabat guru.

Bisa jadi bukan martabat guru yang diperjuangkan malah martabat pribadi, kelompok dalam rangka mempertahankan kehormatan dan mencari nafkah dari ratusan juta uang hasil iuran anggota PGRI se Indonesia yang mengalir ke atas. Martabat guru anggota adalah utama bukan martabat pengurus yang bukan guru. PGRI untuk martabat guru. Bukan yang lain!