Pewarta: Dwi Arifin
Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Perguruan Tinggi berupaya melaksanakan Tri Dharma melalui program kerja Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat. Telkom University memiliki dosen yang mengedukasi langsung atau berdedikasi memberikan pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia yang diharapkan masyarakat di pelosok desa.
Dr. Ir. Rosad M.Pd, M.T, IPU, ASEAN Eng, Dosen Program Studi Teknik Industri Fakultas Rekayasa Industri di Telkom University. Telah lama aktif sebagai Pembina Pos Pelayanan Teknologi Desa Ikhlas Ramaku yang berlokasi di kampung Ciburahol RT 1, RW 20, Desa Ranjamandala Kulon, Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Dirinya menceritakan tentang pengalaman dan karya pengabdiannya. “Setelah lama terjun langsung bersama masyarakat desa, ternyata mereka itu sangat meminati dan membutuhkan keahlian dalam berwirausaha. Kalau bicara kewirausahaan itu pastinya tidak terlepas dari produk barang/jasa, sarana usaha dan pasar atau peluang penjualannya. Melalui workshop kami ajarkan langsung prakteknya, mulai dari awal sampai strategi memajukan usahanya,” ungkapnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online di ruang kerjanya gedung TULT, lantai IV, Jl. Telekomunikasi No. 1, Terusan Buah Batu, Bandung (8-8-2022)

Rosad mengungkapkan dari pengabdian yang dijalani banyak dari pihak pemerintah daerah, provinsi dan pusat memberikan apresiasi langsung dengan memberikan penghargaan atau meninjau langsung ke lokasi Posyantekdes. “Pernah ada bantuan dari pemerintah daerah melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Bandung Barat memberikan dana untuk pengembangan teknolgi sebanyak Rp. 75 Juta. Uang tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan sarana produksi pakan unggas. Karena pemerintah melihat ada kemajuan dari pengelolaan ternak atau budidaya burung puyuh Ikhlas Quail Farm,” ucapnya
Saat ini Posyantekdes sudah melahirkan produk atau teknologi inovasi diantaranya mesin paving blok, daur ulang kertas, mesin pengupas kentang, teknologi tepat guna dibidang pertanian, peternakan, sekaligus produk pengolahan pangan. Sehingga melalui mesin itu akan menghemat waktu, karena lebih efesien membantu kegiatan usaha masyarakat di desa.
Khusus produk pengolahan kulit kentang alatnya dapat mengupas sebanyak 3 Kg/Kilogram dengan kecepatan 55 detik. Dan alat itu menggunakan bahan Stainless Steel 304 food grade yang dapat memotong 1 butir kentang untuk menghasilkan 7 bentuk potongan dalam waktu 3 detik. Sudah dibuktikan langsung di depan dewan juri saat lomba Posyantekdes lomba teknolgi tepat guna yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Jawa Barat. Produknya tidak ada di marketplace, sehingga diijinkan untuk dilombakan. Dan hasil karya-karya itu semuanya diproses untuk memperoleh hak kekayaan intelektual dari Kemenkumham RI.
Rosad juga menyatakan dengan menjadi peserta lomba itu dapat saling mengenal dan sharing ilmu kepada inovator dari daerah lainnya. “Selain itu dari relasinya yang terbangun sempat diundang ke Tanggerang, ke Pesantren-pesantren Tasikmalaya dan pernah ke Mandailing Natal saat ada Kerjasama dengan pihak Bank Indonesia untuk pembinaan kewirausahaan,” katanya
Sedangkan untuk tahun depan kami punya target di 2023. Posyantekdes akan membangun laboratorium entrepreneur atau wirausaha dan pengembangan desa digital untuk membangkitkan Industri Kecil Menengah. Intinya sebagai inovator atau dosen memegang teguh bahwa prinsip inovasi tiada henti guna menghasilkan solusi. Terimakasih atas dukungannya semua pihak dan semoga diridhoi Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.
http://www.koransinarpagijuara.com/2022/08/04/wanita-ulama-gemar-berorganisasi-berkarya-tulis-raih-beasiswa-doktoral-kemenag-ri/
http://www.koransinarpagijuara.com/2022/07/22/kenikmatan-pandangan-mata-sebanding-dengan-ibadah-selama-500-tahun/














