Oleh : Sari Setiawati (Ibu Rumah Tangga)
Bulan Rabiul Awwal adalah bulan yang sangat istimewa, karena tepatnya di tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan tanggal lahir manusia yang paling mulia, yakni Baginda Rasulullah Muhammad saw, yang selalu diperingati oleh umat Islam ( Maulid Nabi ).
Seluruh umat Islam merayakannya dengan penuh kegembiraan. Tetapi apakah peringatan maulid Rasulullah saw ini hanya ceremonial saja seperti hari-hari peringatan yg lainnya dan setelah itu selesai?
Sebagai umatnya Rasulullah saw kita harus bangga dan cinta memiliki nabi yang terbaik akhlaknya, besar jasanya dalam memperjuangkan Islam, dan bahkan ditunjuk oleh Allah SWT sebagai pemimpin para nabi – nabi sebelumnya. Maka dari itu, mencintai Rasulullah saw, hukumnya adalah wajib.
Siapa pun yang mencintai dan menaati Allah SWT dan Rasul-Nya sepenuh hati, hingga mempertahankannya sampai mati, maka akan bersama-sama di surga-Nya nanti. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT, yang artinya: ” Siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang Allah beri nikmat yaitu
para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.Itulah karunia Allah Yang Maha Tahu.”
(TQS an-nisa (4):69-70)
Dalam ayat tersebut jelas, jika memang mencintai Rasulullah saw, buktikanlah dengan ketaatan totalitas seperti para sahabat-sahabat Rasulullah saw yang selalu mentaati dan mengerjakan apa yang Rasul perintahkan dengan segenap kemampuannya.
Tidak seperti saat ini, banyak orang Islam, yang mengaku umatnya Rasulullah saw, tapi meninggalkan ajaran-ajaran Beliau saw, baik terkait ibadah ritual, akhlak, hingga berbagai muamalah seperti dalam bidang ekonomi, pendidikan, budaya, sosial, hukum dan politik.
Semua itu terjadi karena banyak umat Islam yang menganut paham sekularisme, yaitu paham memisahkan aturan agama dalam kehidupan. Bahkan paham ini diterapkan di negeri ini sebagai sistem hidup kapitalisme-sekuler, yang menjadikan umat Islam melanggar perintah Allah SWT dan Rasul-Nya baik itu dalam hal pribadi, keluarga, lingkungan masyarakat maupun pemerintahan.
Misalnya, banyak para penjabat yang korupsi, minuman khamar dilegalkan, ekonomi ribawi diterapkan, dan sebagainya, yang itu semua tidak sesuai dengan contoh Rasul dan melanggar aturan Allah SWT yang ada dalam Al-Quran dan As-sunnah.
Pada akhirnya, kaum muslimin dengan jumlah yang besar hari ini, hanya mengambil Islam sebagai urusan spiritual dan individual saja tidak lebih dari itu. Peringatan Maulid Nabi saw saat ini seharusnya berdampak pada perubahan sikap kita sebagai umat Rasulullah saw, bahwa kita wajib mengikuti beliau di dalam segala aspek kehidupan. Peringatan tersebut seharusnya bisa membangkitkan kaum muslim saat ini yang sedang terlelap dalam kegelapan.
Disinilah, pentingnya aktivitas dakwah untuk mengembalikan manusia (umat Islam khususnya) dari kegelapan menuju cahaya Islam, dengan menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah Muhammad saw secara totalitas dalam kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat At Taubah; 24, yang artinya:
Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Maka jika kita mengaku cinta dan meneladani Rasulullah saw dan berharap mendapat syafaatnya beliau dan bisa berkumpul bersama Beliau di surga firdaus, maka kita harus mengikuti Beliau dalam berdakwah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat, hingga pertolongan Allah SWT datang dengan tegaknya penerapan syariat Islam pertama di Madinah.
WalLahu a’lam bi shawab.










