Pewarta : Fadhel. M
Kota Sukabumi – Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Politeknik Sukabumi mulai membuka kelas pelatihan bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) tujuan Jepang, Rabu (26/8/2026), atau 2 (dua) hari setelah resmi diresmikan.
Sebanyak 24 CPMI mengikuti pelatihan yang mencakup pembelajaran Bahasa Jepang dan keterampilan kerja bersertifikat sebagai bekal bekerja secara legal dan profesional di Jepang.
Wali Kota Sukabumi, H. Ayep Zaki mengatakan, program tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Sukabumi dalam membuka akses lapangan kerja sekaligus menekan angka pengangguran.
“Program ini fokus untuk menyelesaikan masalah pengangguran di Kota Sukabumi. Kita ingin anak – anak muda memiliki keterampilan dan kesempatan kerja, bukan hanya di dalam daerah tetapi juga ke luar negeri,” ujar Ayep.
LPK Politeknik Sukabumi ditargetkan membuka sedikitnya 2 (dua) kelas setiap bulan dengan kapasitas sekitar 30 peserta per kelas. Program ini terbuka tidak hanya bagi warga Kota Sukabumi, tetapi juga masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Barat dan sekitarnya.
Ayep menjelaskan, biaya pelatihan dan persiapan mencapai sekitar Rp. 65 juta. Namun, peserta cukup menyiapkan deposit sekitar Rp. 5 juta, sedangkan pembiayaan lainnya dapat diakses melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) perbankan atau alternatif koperasi bagi peserta yang terkendala catatan SLIK.
Pembayaran pinjaman dapat dilakukan setelah peserta mulai bekerja di negara tujuan.
Menurut Ayep, Jepang menjadi salah satu negara tujuan utama dalam program tersebut. Pemkot Sukabumi menggandeng LPK, lembaga pendidikan dan perusahaan penempatan pekerja migran untuk memastikan proses keberangkatan dilakukan melalui jalur resmi.
Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Kota Sukabumi, hingga saat ini sekitar 530 pekerja migran asal Kota Sukabumi telah berangkat ke Jepang.
Ke depan, Pemkot Sukabumi menargetkan sebanyak 10.000 pekerja migran terampil dapat ditempatkan melalui jalur legal. Selain mengurangi pengangguran, program tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi keluarga dan masyarakat.
“Target saya 10.000 pekerja migran. Kita ingin mereka berangkat melalui jalur yang legal, punya skill dan terlindungi,” pungkas Ayep.













