Pewarta : A Y Saputra
Kabupaten Ciamis – Di tengah dinamika geopolitik global dan eskalasi politik dalam negeri yang memicu keresahan, perdamaian bukanlah hal yang datang sendiri, melainkan buah perjuangan dan komitmen bersama. Demikian ditegaskan Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, dalam peringatan tahunan Gong Perdamaian Dunia bertempat di lokasi Situs Ciung Wanara,Karangkamulyan, Rabu (9/9/2026).
Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat memaknai situasi saat ini sebagai refleksi bersama untuk semakin memperkokoh nilai perdamaian.
“Perdamaian bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari perjuangan dan kesadaran komitmen bersama kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati menekankan bahwa perdamaian sejatinya merupakan amanah konstitusi yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea Keempat, yang menegaskan tujuan negara untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. “Perdamaian sejatinya adalah amanah konstitusi yang harus kita pelihara dan junjung tinggi,” tegasnya.
Jauh sebelum itu, bahkan sebelum berdirinya bangsa Indonesia, Tatar Galuh telah menorehkan jejak agung tentang perdamaian sejak tahun 739 Masehi.
Lahirlah tonggak sejarah Mupulung Rahi, yakni 10 Perjanjian Damai yang disepakati para keturunan Uritekendayun, dengan tujuan menjaga persatuan, menghindari peperangan, dan menciptakan harmoni di Bumi Galuh.
Bupati mengutip naskah kuno Carita Parahyangan, “Kiciwanti sang Prabu Galuh, jeng sang Prabu Sunda, papanggih ngajalin duduluran, nya eta nyauran gatra sawala piken te aya pasalia deui watesna, Citarum jadi panghalan.”
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa leluhur memilih jalan damai dengan membagi wilayah, bukan saling memaksakan kehendak, dari sinilah lahir Mupulung Rahi, 10 Perjanjian Damai Galuh tahun 739 Masehi.
“Warisan leluhur ini menjadi bukti bahwa budaya damai sudah tumbuh di tanah ini sejak berabad silam, dan kini menjadi tanggung jawab kita untuk terus melestarikannya,” tambah Bupati Hirdiat Sunarya.
Peringatan Gong Perdamaian Dunia yang berpusat di Ciung Wanara ini diharapkan bukan hanya seremoni, melainkan pengingat hidup untuk menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan menjadikan perdamaian sebagai jalan utama menuju kemajuan bersama.













