Ragam

Hujan Picu Genangan, Pemkot Bandung Evaluasi Drainase dan Tali Air

adminsigiku.com
×

Hujan Picu Genangan, Pemkot Bandung Evaluasi Drainase dan Tali Air

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Ida

Kota Bandung – Pemerintah Kota Bandung akan mengevaluasi sejumlah titik genangan yang muncul setelah hujan mengguyur wilayah Kota Bandung dalam dua hari terakhir, meski masih berada pada periode musim kemarau.

Evaluasi terutama akan difokuskan pada kondisi tali air dan saluran drainase yang dinilai perlu diperbaiki.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, genangan masih muncul di sejumlah titik, namun sejauh ini masih dapat ditangani.

“Kelihatannya genangan memang ada di beberapa titik, tapi masih bisa kita tangani. Maka, berdasarkan hujan selama dua hari ini, kami akan lakukan titik – titik evaluasi, khususnya untuk perbaikan tali air,” kata Farhan, Minggu (20/9/2026).

Menurut Farhan, salah satu kawasan yang sebelumnya kerap mengalami genangan, yakni Cicadas, kini tidak lagi menunjukkan persoalan serupa setelah perbaikan trotoar rampung.

Namun, sejumlah wilayah perbatasan masih menjadi perhatian, terutama kawasan perbatasan timur dan barat, termasuk Cimindi, Cibaduyut, dan Derwati.

Farhan mengatakan perbaikan trotoar masih berlangsung di sejumlah ruas jalan. Pemkot Bandung menargetkan pekerjaan tersebut rampung pada akhir November 2026, setidaknya di 17 kawasan wisata yang menjadi fokus penataan.

Penataan trotoar dilakukan secara terintegrasi dengan pembenahan penerangan dan sistem drainase. Dalam prosesnya, Pemkot Bandung juga melakukan penertiban terhadap bangunan maupun pedagang kaki lima yang mengganggu fungsi drainase.

“Semuanya, drainasenya juga. Itu sebabnya memang ada beberapa titik yang memaksa kita untuk menertibkan bangunan dan PKL,” ujarnya.

Selain pembenahan drainase, Pemkot Bandung juga menyiapkan pembangunan pompa air untuk mendukung penanganan genangan. Namun, Farhan menyebut penggunaan pompa merupakan opsi jangka pendek dan terakhir karena membutuhkan rekayasa teknis serta biaya besar.

“Kita mesti memikirkan elevasi, mengubah elevasi. Sebetulnya membangun rumah pompa, syarat teknis untuk rekayasanya atau technical engineering – nya itu sangat berat, tidak semudah itu dan mahal. Maka buat saya itu pilihan terakhir,” katanya.

Pemkot Bandung juga akan melakukan rekayasa aliran air agar kapasitas saluran tidak menyempit. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Jalan Pungkur.

Farhan mengatakan kerusakan kirmir di Jalan Pungkur berkaitan dengan kondisi saluran dan bangunan di atasnya. Pemkot Bandung, kata dia, tidak akan membangun kembali kirmir dengan pola yang sama jika berpotensi menyebabkan persoalan serupa.

“Pemerintah tidak akan membangun kirmir baru lagi,” ujarnya.

Farhan juga meminta masyarakat yang memiliki bangunan yang melanggar ketentuan di sekitar kirmir untuk menyesuaikan atau memotong bagian bangunan tersebut. Menurutnya, keberadaan bangunan yang tidak sesuai ketentuan dapat memengaruhi kekuatan kirmir dan meningkatkan risiko longsor.