DLH Kabupaten Bandung: Sampah Campur Jadi Musuh Utama, Pemilahan dari Rumah Kunci Sukses RDF

0
14

Pewarta : Ida

Kabupaten Bandung – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung menegaskan bahwa kebiasaan masyarakat membuang sampah tanpa dipilah masih menjadi hambatan terbesar dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan. Pemilahan sampah sejak dari sumber dinilai menjadi syarat utama agar teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dapat berjalan optimal.

Kepala Bidang DLH Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy, mengatakan persoalan terbesar yang dihadapi pemerintah saat ini bukan sekadar tingginya volume sampah, melainkan masih bercampurnya sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga hingga proses pengangkutan.

“Musuh terbesar kami sebenarnya adalah sampah campur. Ketika sampah yang diangkut masih bercampur, proses pengelolaan menjadi jauh lebih sulit,” ujarnya di Bandung, Sabtu.

Menurut Abdul Wahid, pemilahan sejak awal akan mempermudah proses daur ulang, pengolahan, hingga pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif melalui teknologi RDF yang saat ini tengah dikembangkan DLH Kabupaten Bandung bersama pendampingan Bank Dunia.

Ia menegaskan, teknologi RDF tidak dapat bekerja secara optimal apabila bahan bakunya berasal dari sampah yang tercampur.

“Mesin RDF tidak mungkin dijalankan jika sampah masih bercampur seperti sekarang,” tegasnya.

DLH juga tengah mempersiapkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan rencana operasional Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Legok Nangka. Untuk mendukung sistem tersebut, dibutuhkan pasokan sampah anorganik kering yang telah dipilah sejak dari sumber.

Berdasarkan data DLH, Kabupaten Bandung menghasilkan sekitar 1.600 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 persen atau sekitar 320 ton merupakan residu yang tidak dapat didaur ulang secara langsung. Namun, residu tersebut masih berpotensi dimanfaatkan apabila proses pemilahannya dilakukan dengan benar.

Sementara itu, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan komposisi timbulan sampah di Kabupaten Bandung didominasi sampah organik sekitar 50 persen, disusul sampah plastik sekitar 17 persen.

Abdul Wahid menambahkan, sampah organik yang dikelola melalui Rumah Tempa juga dapat dimanfaatkan sebagai material penutup di tempat pemrosesan akhir, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap lahan pembuangan.

DLH Kabupaten Bandung mengajak seluruh masyarakat untuk mulai membiasakan memilah sampah dari rumah. Langkah sederhana tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah, mengurangi beban tempat pembuangan akhir, sekaligus mendukung pengembangan energi alternatif berbasis limbah.