Pewarta : Roy P
Kota Ambon – Anggota Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Anos Yermias mengaku menerima sejumlah keluhan dari masyarakat saat melakukan reses di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), terkait pemasaran hasil ternak ke sejumlah daerah di Maluku, maupun keluar Maluku.
“Reses kali ini saya memilih daerah di 5 (lima) pulau berbeda di Kabupaten MBD, mulai dari Kisar dan berkesempatan berjumpa dengan masyarakat peternak Kambing, Sapi juga Kerbau dalam kaitan pemasaran hasil ternak dari MBD ke daerah di Maluku maupun luar daerah Maluku,” ungkapnya kepada awak media, Rabu (11/05/2022).
Dikatakan, masyarakat mengeluhkan tidak adanya kapal khusus untuk mengangkut hewan, padahal di 4 (empat) pulau yang ada di MBD terkenal sebagai penghasil ternak Kambing, Domba, Sapi dan Kerbau, tambah Yermias.
Menanggapi keluhan tersebut, Anos langsung melalukan koordinasi dengan pihak – pihak terkait.
“Kapten Benny, selaku Kepala Sub Direktorat Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perhubungan, akhirnya menyanggupi untuk membantu masyarakat di MBD, terlebih menjelang Hari Raya Idul Adha 1443 H,” ujarnya.
Selain ke Kementerian Perhubungan, dirinya juga telah berkoordinasi dengan para operator kapal, agar sewaktu-waktu jika terpaksa bisa diangkut dengan kapal penumpang.
“Kalau misalnya terpaksa harus diangkut dengan kapal penumpang, kami juga sudah pengelola kapal, misalnya KM Sabuk 34, ternak bisa bisa disekat dibelakanh, dan semua pintu di tutup,”ucap Yeremias lagi.
Tak hanya itu, Anos mengakui dalam Reses, masyarakat Werwawan juga meminta adanya perhatian Pemerintah Daerah Maluku terhadap persoalan abrasi yang sering terjadi di pesisir wilayah tersebut.
Kemudian, lanjutnya, masyarakat juga mengeluhkan air bersih, walaupun SPAM dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) telah masuk ke Werwawan. Namun rata-rata program yang dijalankan gagal.
“Memang ada kegiatan Pamsimas dan SPAM, tetapi rata-rata gagal, karena anggarannya relatif kecil, memang Program Pamsimas ada sharing anggaran, baik APBD kabupaten maupun APBN. tetapi karena ditangani full APBN, sehingga ada yang memang tidak berhasil di beberapa lokasi, ada juga berhasil tetapi bak penampung atau reservoir terlampau kecil, misalnya di Desa Ilih Pulau Damer itu reservoir kecil, sehingga masyarakat harus bagi shift, ada tiga hari sekali, dan itu sangat menyulitkan masyarakat disitu,” bebernya.
