OPINI/Artikel

Setiap Hari Menulis, Setiap Bulan Terbit Buku

adminsigiku.com
×

Setiap Hari Menulis, Setiap Bulan Terbit Buku

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)

Kepala sekolah yang satu ini memang luar biasa. Saya menyebutnya sebagai kepala sekolah paling literatif di Indonesia. Ini mungkin hanya ada di keluarga besar MKKS SMA di Kabupaten Bogor.

Kabupaten Bogor dan tentunya Kota Bogor adalah sebuah daerah yang khas dengan julukan kota hujan. Kini Bogor selain kota hujan pelan tapi pasti menjadi “kota literasi”. Mengapa Saya katakan demikian?

Bogor, selain adanya kepala sekolah yang setiap hari menulis dan setiap bulan menerbitkan buku ber_ISBN, puluhan kepala sekolah juga menulis. Plus sejumlah guru dan anak didiknya.

Sejumlah sekolah di Bogor berhasil menerbitkan buku karya guru, anak didik dan kepala sekolah. Bila Nadiem Makarim menginginkan masyarakat kita lebih literatif, maka Bogor sudah memulainya dan akan terus bertumbuh.

Kalau Saya sebutkan satu persatu anak didik, guru dan kepala sekolah yang mulai suka menulis, tentu sangat banyak. Namun Saya sebutkan saja satu kepala sekolah paling literatif dari Kabupaten Bogor.

Siapa kepala sekolah itu? Ia Saya sebut sebagai BA (Branding Abssador) literasi wilayah Bogor. Ia adalah seorang kepala sekolah yang hari ini bertugas di SMAN 1 Leuwiliang. Ia sosok pembelajar cepat dalam menulis.

Sejumlah bukunya sangat menarik dibaca. Plus setiap tulisan dibingkai dalam hadits-hadits yang menawan. Membaca buku-bukunya membuat kita akan terbawa dalam alam pikir penulis yang humanis realistis.

Dalam memotivasi agar orang menulis, Saya pernah menyindir seorang sahabat yang sangat soleh dan disiplin sholat tahajud. Ia tahajudnya tiada putus, terjaga dengan baik.

Sahabat kepala sekolah yang ahli tahajud ini berasal dari Jawa Timur. Saya katakan, “Sahabat Ku betapa dahsyatnya bila pasca shalat tahajud apa yang didapat dituliskan”.

Shalat tahajud cenderung untuk keunggulan pribadi, namun menulis jauh lebih bermanfaat bagi orang banyak. Menularkan keunggulan pribadi pada orang lain. Saya mengajak padanya agar keunggulan pribadi dan kemuliaannya dituliskan.

Kembali ke judul di atas. Awalnya Saya sering melihat Kepala SMAN 1 Leuwiliang sering membawakan doa di acara formal giat KCD Wilayah 1. Doanya tentu menembus langit, namun cenderung hanya dinikmati oleh makom di ruang terbatas.

Kini setelah menjadi penulis paling produktif, karyanya bisa dibaca khusus masyarakat Jawa Barat dan umumnya Indonesia. Tulisannya di media online dan cetak bisa dibaca siapa pun.

Kepala SMAN 1 Leuwiliang telah melakukan sebuah amalan literatif yang tembus pandang, tembus batas, ruang dan waktu. Bahkan saat para penulis dipanggil Ilahi, karyanya tak pernah mati. Usia karyanya terdokumentasi dalam jejak maya, buku dan ingatan kolektif publik.

Mari para pendidik, guru, kepala sekolah untuk mulai menulis. Menulis adalah mewujudkan keabadian. Bila manusia secara biologis abadi dengan keturunannya, maka menulis pun bagian dari keabadian manusia secara bioliteratif.

Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin mengatakan, “Ada puluhan ahli hadis namun yang “abadi” adalah: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali”. Mengapa puluhan yang lainnya tidak populis dan tiada? Karena mereka tidak menulis.