Pewarta : Herlina SC
Kab. Bandung Barat — Belasan siswa SDN 2 Cipeundeuy, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sejumlah siswa bahkan harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengalami gejala seperti sakit perut, muntah, diare, demam hingga sesak napas.
Salah seorang korban, Savaira RQ (12), siswa kelas VI SDN 2 Cipeundeuy, masih menjalani perawatan di Rumah Sakit IMC, Jalan Cimareme, KBB.
Ibu Savaira, Dian Lisa (31), mengatakan gejala mulai dirasakan anaknya setelah pulang sekolah pada Rabu (9/9/2026). Awalnya, Savaira mengeluhkan sakit perut dan pusing.
Kondisinya kemudian memburuk. Savaira mengalami buang air besar berulang kali, muntah, hingga demam.
“Awalnya saya pikir sakit perut biasa, hanya kecapaian biasa,” kata Dian saat ditemui di RS IMC, Minggu (13/9/2026).
Pada Kamis (10/9/2026), Savaira dibawa ke klinik. Dokter menduga ia salah mengonsumsi makanan dan menyarankan pemberian infus.
Namun, setelah sempat membaik, gejala kembali muncul. Kondisinya bahkan memburuk pada Jumat (11/9/2026).
Savaira sempat pingsan dua kali dan mengalami sesak napas. Keluarga kemudian meminta bantuan sukarelawan untuk membawa Savaira ke rumah sakit.
Dian mengatakan Savaira tidak memiliki kebiasaan jajan berlebihan di sekolah. Ketika ditanya mengenai makanan yang dikonsumsi sebelum mengalami gejala, Savaira menyebut menu MBG yang diterimanya.
Menu tersebut terdiri atas nasi, ayam kecap, semangka, dan sayur. Savaira mengaku hanya menghabiskan sekitar setengah porsi karena mencium bau kurang sedap dari nasi dan ayam.
“Katanya nasi sama ayamnya agak bau,” ujar Dian.
Selain Savaira, dua anggota keluarganya, Candra Radittya (5) dan Rindi Agustin (11), juga mengalami gejala serupa. Keduanya turut mendapat perawatan di RS IMC.
Korban Capai Puluhan Pasien
Guru SDN 2 Cipeundeuy, Dusi Muhamad Firdaus, mengatakan jumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan terus bertambah.
Pada Jumat malam, sekitar 10 siswa dibawa ke rumah sakit. Jumlah tersebut kemudian bertambah hingga sekitar 19 siswa.
Berdasarkan catatan Dusi, tujuh siswa dirawat di RS IMC, satu di Graha Medika, tujuh di RSUD Cibabat, sedangkan empat siswa lainnya sempat menjalani pemeriksaan dan diperbolehkan pulang.
Data dari Dinas Kesehatan KBB juga menunjukkan jumlah korban yang mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan cukup besar.
Hingga Sabtu (12/9/2026) sore, RSUD Cibabat menangani 14 orang. Sebanyak delapan pasien masih dirawat, lima diperbolehkan pulang, dan satu pasien dirujuk atas permintaan keluarga.
Sementara itu, Klinik Harapan Sehat menangani tujuh orang dan RS IMC sebanyak 10 orang.
Kepala Dinas Kesehatan KBB Lia Nurliana Sukandar kemudian memperbarui data pasien yang dirawat di IMC dengan tambahan dua orang.
Lia mengatakan seluruh korban yang ditangani berasal dari lingkungan SDN 2 Cipeundeuy. Namun, terdapat kemungkinan orang tua atau guru juga mengalami gangguan kesehatan.
Dinkes Investigasi SPPG
Menindaklanjuti kejadian tersebut, tim Dinkes KBB melakukan investigasi ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan MBG ke SDN 2 Cipeundeuy.
Namun, tim tidak menemukan sampel makanan yang diduga menjadi penyebab kejadian karena sampel makanan pada hari kejadian sudah tidak tersedia.
“Tim Dinkes hanya menemukan sampel makanan yang hari Jumat dan sampel tersebut kami ambil dan kami kirim ke Labkesmas untuk diperiksa lebih lanjut,” kata Lia.
Dari pemeriksaan awal terhadap pasien, keluhan yang dominan berupa gangguan pada saluran pencernaan.
Pihak mitra dapur MBG/SPPG Cipeundeuy Padalarang, Herlina, memilih tidak banyak berkomentar mengenai kejadian tersebut.
Ia menyerahkan proses pemeriksaan kepada Dinkes dan kepolisian.
“Supaya yang sakit sehat dulu,” ujarnya.
Ombudsman Soroti Keamanan MBG
Kasus di SDN 2 Cipeundeuy kembali menyoroti persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG di KBB.
Ombudsman Republik Indonesia sebelumnya menemukan pengawasan pelaksan













